Langsung ke konten utama

Bukan Wilayah, Bukan Kejayaan: Alasan Sebenarnya Rusia Terus Berperang di Ukraina

Oleh Dennis Ramadhan Perang antara Rusia dan Ukraina telah berlangsung selama lebih dari tiga tahun. Suara tank masih mengaum di jalanan, suara artileri dan tembakan senjata masih sangat terdengar jelas. Masyarakat masih dihantui oleh perang yang tak berkesudahan ini. Jutaan personel militer dan warga sipil telah menjadi korban akibat tragedi kemanusiaan terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II. Ukraina secara konsisten menunjukkan keinginannya untuk melakukan gencatan senjata bahkan berdamai dengan Rusia. Namun, pihak Rusia berulang kali mencoba memperpanjang perang dan selalu mengelak untuk melakukan gencatan senjata. Padahal, Presiden Zelenskyy dan Trump sepakat bahwa perang yang tak berkesudahan ini harus segera dihentikan. Sejak tahun 2022, kedua belah pihak telah berulang kali melakukan proses negosiasi damai. Namun, hingga saat ini upaya negosiasi dan mediasi yang dilakukan masih belum menemui jalan terang. Ukraina sebagai p...

Rusia vs Ukraina: Ketika Negara Tanpa Angkatan Laut Mengalahkan Armada Laut Terkuat Ketiga Dunia

Oleh Dennis Ramadhan

Dalam peperangan, peranan angkatan laut sangatlah krusial. Tanpa adanya angkatan laut, perang tidak mungkin akan bisa dimenangkan dengan mudah. Sejarah membuktikan bahwa negara yang memiliki pasukan matra laut yang kuat mampu menguasai dunia. Inggris pada era abad ke-19–20 memiliki angkatan laut yang sangat kuat hingga mampu menguasai 25% wilayah dunia termasuk koloni-koloninya di belahan bumi selatan. Jerman pada Perang Dunia I mengalami kesulitan menghadapi Sekutu berkat blokade militer terutama di laut yang dilakukan oleh Inggris. Amerika juga bukan pengecualian; Amerika membangun angkatan lautnya menjadi yang terkuat di bumi saat ini. Amerika memiliki 11 kapal induk dan ratusan kapal perang, menunjukkan ambisi dominasi matra laut yang kuat.

Tidak cukup dengan Amerika, Cina yang merupakan rival abadi Amerika saat ini tidak mau ketinggalan. Saat ini Cina membangun kekuatan matra lautnya dengan serius. Diketahui Cina memiliki 3 kapal induk dan ratusan kapal perang yang secara kuantitas sedikit lebih banyak dari Amerika. Hal ini menunjukkan bagaimana negara-negara superpower berambisi mendominasi dunia dengan membangun angkatan laut yang kuat.

Pada masa saat ini, ada negara yang diklaim merupakan negara dengan kekuatan militer terkuat nomor 2 di dunia, namun sebagian aset militer lautnya mampu dihancurkan oleh negara yang tidak memiliki angkatan laut sama sekali. Ya, itulah Rusia. Angkatan Laut Rusia diklaim merupakan yang terkuat nomor 3 di dunia setelah Amerika dan Cina. Namun, selama perang Rusia-Ukraina, peranan armada laut Rusia sangatlah minim. Malah armada laut mereka menjadi bulan-bulanan bagi pasukan Ukraina.

Apakah Angkatan Laut Ukraina Pernah Eksis?

Angkatan Laut Ukraina sebenarnya pernah ada sebelum tahun 2014. Namun saat invasi Rusia ke Krimea pada tahun 2014, Rusia menjarah kapal perang dan infrastruktur armada laut Ukraina secara ilegal. Hasilnya, pada tahun 2022 armada laut yang dimiliki Ukraina hanyalah kapal patroli dan sama sekali tidak memiliki kapal perang besar. Rusia juga menguasai wilayah Laut Hitam dan menduduki pangkalan militer di Sevastopol. Rusia mengerahkan sejumlah aset militer seperti kapal perang, fregat, dan kapal selam ke wilayah tersebut. Dengan aset militer itu, Rusia melakukan blokade militer, pendaratan amfibi, serta serangan rudal jelajah ke kota-kota Ukraina.

Meskipun Ukraina harus melawan Rusia tanpa angkatan laut, Ukraina mampu beradaptasi dan mengembangkan strategi perang asimetris guna menghadapi Rusia. Ukraina membangun persenjataan berbasis di darat dan memanfaatkan drone untuk menghancurkan aset militer laut Rusia. Di awal invasi Rusia tahun 2022, industri militer Ukraina mengembangkan rudal jelajah anti-kapal Neptune yang memiliki jangkauan 300 km. Rudal Neptune sukses meluluhlantakkan sejumlah armada laut Rusia. Kemudian Ukraina juga mengembangkan drone laut tanpa awak yang tak kalah hebat dari rudal Neptune. Drone laut tersebut melacak keberadaan kapal perang Rusia dan menghancurkan kapal tersebut tanpa harus mengorbankan personel militer. Militer Ukraina menunjukkan kehebatan inovasi dan adaptasi teknologi modern dalam medan pertempuran.

Inovasi Senjata dan Taktik Militer Ukraina

Kesuksesan Ukraina bergantung pada dua aspek: rudal yang digunakan untuk serangan presisi dan drone laut untuk misi pengintaian. Rudal Neptune terbukti sangat mematikan; meski diluncurkan dari darat, rudal tersebut mampu menghindari sinyal radar dari sistem pertahanan udara. Dengan hulu ledak seberat 150 kg, rudal ini terbukti mampu menghancurkan kapal perang Rusia.

Drone laut Magura V5 milik Ukraina merupakan terobosan mutakhir. Dengan panjang 5,5 meter dan hulu ledak seberat 320 kg, drone ini digerakkan via satelit sehingga sulit dideteksi. Drone ini juga memiliki jangkauan hingga 800 km. Dengan biaya produksi per unit sekitar 250.000 dolar, drone kamikaze ini mampu menyerang aset militer di laut. Variasi lain seperti Sea Baby mampu membawa ranjau laut dan peluncur roket. Dengan berbagai aset militer di atas, Ukraina mampu melakukan serangan asimetris terhadap Rusia. Aset militer Rusia yang sudah outdated dan minim pemeliharaan menjadi target mudah bagi Ukraina meskipun Ukraina tidak memiliki angkatan laut.

Moskva “Dipromosikan” Menjadi Kapal Selam

Pada 14 April 2022, untuk pertama kalinya dalam sejarah, negara yang tidak memiliki angkatan laut sukses menenggelamkan salah satu aset armada laut Rusia. Kapal perang Moskva yang berpatroli di dekat Pulau Ular ditenggelamkan akibat serangan dua rudal jelajah Neptune. Tenggelamnya kapal perang tersebut merupakan yang pertama sejak 1905.

Hancurnya kapal perang Moskva meningkatkan moral personel militer Ukraina dan membuat Rusia menarik sejumlah aset armada lautnya menjauhi Ukraina. Kejadian tersebut menunjukkan bahwa armada laut Rusia tidaklah sehebat yang dikatakan di atas kertas. Meski tanpa angkatan laut, Ukraina mampu menenggelamkan sebagian aset armada laut Rusia.

2023: Angkatan Laut Rusia Dipermalukan

Pada tahun 2023, serangan intensif terus terjadi. Pada September, rudal jelajah Storm Shadow menyerang kantor pusat Armada Laut Hitam Rusia di Sevastopol. Kapal pendaratan Minsk dan kapal selam Rostov-on-Don mengalami kerusakan parah. Pada November, rudal yang diluncurkan Ukraina sukses meluluhlantakkan korvet Askold.

Drone Ukraina berperan untuk misi pengintaian, sementara eksekusi dilakukan oleh rudal jelajah Neptune atau Storm Shadow. Akibat serangan drone dan rudal jelajah yang berulang kali dilakukan Ukraina terhadap aset militer Rusia di Krimea, secara memalukan Rusia menarik seluruh armada lautnya dari Sevastopol ke Novorossiysk.

2024: Ukraina Terus Beradaptasi

Momentum bagi Ukraina terus berlanjut pada tahun 2024. Pada Januari 2024, korvet Ivanovets ditenggelamkan oleh drone Magura. Pada Februari, kapal pendaratan Tsezar Kunikov mengalami nasib serupa. Begitu pula pada Maret, kapal patroli Sergey Kotov hancur lebur akibat serangan drone laut Ukraina. Pada pertengahan 2024, sekitar 20% aset armada laut Rusia mengalami kerusakan atau kehancuran.

2025: Keperkasaan Militer Ukraina

Sejarah tercipta pada tahun 2025: untuk pertama kalinya, drone laut menembak jatuh jet tempur Su-30 di Laut Hitam. Pada Mei, serangan terkoordinasi Ukraina sukses menghancurkan radar dan gudang amunisi Rusia di Krimea.

Pada November, drone Sea Baby milik Ukraina sukses mengenai tanker milik Rusia di dekat perairan Turki. Pada Desember ini, serangan drone Ukraina juga sukses mengenai kapal selam Rusia di Novorossiysk. Rusia mengklaim tidak ada kerusakan pada kapal selam tersebut. Serangan di luar Laut Hitam juga dilakukan oleh militer Ukraina. Kali ini di Laut Mediterania, sebuah tanker bernama Qendil milik Rusia diserang oleh Ukraina. Seorang jenderal Rusia tewas akibat serangan itu.

Lebih mudahnya, berikut beberapa aset militer laut Rusia yang telah hancur atau mengalami kerusakan berat dan ringan:

- Kapal perang flagship Moskva (14 April 2022) ditenggelamkan oleh rudal jelajah Neptune

- Kapal selam kelas Kilo Rostov-on-Don mengalami kerusakan parah akibat serangan rudal jelajah Storm Shadow (September 2023)

- Korvet Ivanovets (Januari 2024) ditenggelamkan oleh drone Magura

- Kapal patroli Sergey Kotov (Maret 2024) ditenggelamkan oleh drone Magura

- Kapal pendaratan Tsezar Kunikov (Februari 2024) ditenggelamkan oleh drone Magura

- Kapal pendaratan Novocherkassk (Desember 2023) ditenggelamkan oleh serangan rudal

- Korvet Askold (November 2023)

- Korvet Tsiklon (Mei 2024) dihancurkan oleh rudal ATACMS

- Kapal pendaratan Minsk (September 2023) dihancurkan oleh rudal jelajah Storm Shadow

- Kapal pendaratan Yamal (Maret 2024) mengalami kerusakan akibat serangan rudal jelajah Neptune

- Kapal pendaratan Azov (Maret 2024) mengalami kerusakan akibat serangan rudal jelajah Neptune

- Kapal pengintai Ivan Khurs (Mei 2023) mengalami kerusakan akibat serangan drone laut

- Kapal tunda Saturn ditenggelamkan oleh drone laut (Juni 2024)

- Kapal patroli kelas Raptor (2022–2024) dihancurkan di sekitar wilayah Pulau Ular

- BK-16 high speed boat (2022)

- Kapal selam kelas Kilo (Desember 2025) diserang oleh drone laut. Serangan pertama dalam sejarah menggunakan drone laut terhadap kapal selam.

- Serangan terhadap kapal tanker Rusia (Kairos, Virat, Dashan, Qendil) diserang oleh drone laut.

Itulah beberapa kapal perang Rusia yang telah menjadi korban keganasan militer Ukraina. Meskipun secara resmi Ukraina tidak memiliki angkatan laut, Ukraina mampu menyerang dan menghancurkan berbagai aset armada laut Rusia. Angkatan Laut Rusia dipermalukan oleh negara yang sama sekali tidak memiliki angkatan laut seperti Ukraina.

Jika Ukraina mampu memberikan kehancuran yang sedemikian besar terhadap angkatan laut Rusia, bagaimana dengan NATO? Mungkinkah semua aset militer armada laut Rusia akan hancur lebur dalam waktu 3 hari?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Trump, Rusia, dan Cina: Risiko Runtuhnya Tatanan Dunia Liberal

Oleh Dennis Ramadhan Selama Perang Dunia II, rezim Nazi Jerman melakukan invasi brutal ke hampir seluruh negara di Eropa. Tanpa campur tangan Amerika Serikat, besar kemungkinan Eropa akan jatuh sepenuhnya ke tangan Hitler, dan hingga kini benua itu mungkin tidak akan pernah menikmati kebebasan serta demokrasi. Peran Amerika dalam membela sekutu dari kekejaman rezim otoriter pada Perang Dunia II tidak boleh dilupakan oleh negara-negara demokrasi saat ini. Pasca-Perang Dunia II, Amerika terus memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas dan mempertahankan tatanan dunia liberal hingga hari ini. Setelah Perang Dunia II, Amerika berhasil menangkal ancaman nyata dari ideologi komunisme yang dipropagandakan Uni Soviet. Ketika Uni Soviet runtuh pada 1991, Amerika seolah kehilangan “musuh abadi”. Namun, memasuki awal abad ke-21, muncul kekuatan superpower baru yang berpotensi mengancam tatanan demokrasi dunia: Tiongkok (Cina). Pertumbuh...

Ukraina: Menuju "Big Israel" di Eropa Timur

Oleh Dennis Ramadhan Di awal invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022, Rusia mencoba menduduki Kyiv dalam waktu tiga hari. Namun, invasi tersebut gagal total berkat bantuan militer dari sekutu serta pelatihan militer yang telah ditekuni Ukraina beberapa tahun sebelumnya. Saat runtuhnya Uni Soviet, Ukraina menyerahkan sejumlah senjata nuklirnya kepada Rusia dengan kompensasi berupa jaminan keamanan. Penyerahan senjata nuklir dan komitmen jaminan keamanan itu tertuang dalam Memorandum Budapest. Namun, Rusia sebagai penjamin keamanan justru menusuk Ukraina dari belakang: mencaplok Crimea pada 2014 dan menginvasi Ukraina pada 2022. Invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 menunjukkan betapa rapuhnya janji-janji yang tertulis di atas kertas. Meskipun Rusia mencoba menyerang Ukraina pada 2022, setelah lebih dari 3,5 tahun berlalu, Rusia tidak mampu menduduki seluruh wilayah Ukraina, bahkan kota Kyiv sekalipun. Padahal, Rusia digadang-gadang sebag...

Rusia vs Ukraina: Dari Mitos Kekuatan Superpower ke Realitas Paper Tiger

Oleh Dennis Ramadhan Tak terasa sudah lebih dari tiga tahun sejak Putin menginstruksikan pasukannya untuk menduduki seluruh Ukraina dalam waktu tiga hari. Perang yang Putin harapkan bisa selesai dalam waktu 3 hari ternyata belum lekas selesai sampai sekarang. Rusia dulunya dikenal sebagai negara dengan pasukan militer nomor 2 terkuat di dunia setelah Amerika Serikat. Namun, setelah perang Rusia-Ukraina berlangsung, fakta menunjukkan hal yang berbeda. Militer Rusia tetap menjadi nomor 2, tetapi bukan di dunia, melainkan di Ukraina. Ini bukan candaan, tetapi fakta yang ada di lapangan. Sampai saat ini pun, Rusia belum mampu meraih superioritas udara di langit Ukraina. Justru kebanyakan jet tempur Rusia berhasil ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara Ukraina. Hal ini sangat ironis mengingat Ukraina hanyalah negara dengan perlengkapan militer yang sudah tua karena menggunakan teknologi peninggalan Soviet. Anehnya, Rusia tidak mampu...