Langsung ke konten utama

Bukan Wilayah, Bukan Kejayaan: Alasan Sebenarnya Rusia Terus Berperang di Ukraina

Oleh Dennis Ramadhan Perang antara Rusia dan Ukraina telah berlangsung selama lebih dari tiga tahun. Suara tank masih mengaum di jalanan, suara artileri dan tembakan senjata masih sangat terdengar jelas. Masyarakat masih dihantui oleh perang yang tak berkesudahan ini. Jutaan personel militer dan warga sipil telah menjadi korban akibat tragedi kemanusiaan terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II. Ukraina secara konsisten menunjukkan keinginannya untuk melakukan gencatan senjata bahkan berdamai dengan Rusia. Namun, pihak Rusia berulang kali mencoba memperpanjang perang dan selalu mengelak untuk melakukan gencatan senjata. Padahal, Presiden Zelenskyy dan Trump sepakat bahwa perang yang tak berkesudahan ini harus segera dihentikan. Sejak tahun 2022, kedua belah pihak telah berulang kali melakukan proses negosiasi damai. Namun, hingga saat ini upaya negosiasi dan mediasi yang dilakukan masih belum menemui jalan terang. Ukraina sebagai p...

Ukraina: Menuju "Big Israel" di Eropa Timur

Oleh Dennis Ramadhan

Di awal invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022, Rusia mencoba menduduki Kyiv dalam waktu tiga hari. Namun, invasi tersebut gagal total berkat bantuan militer dari sekutu serta pelatihan militer yang telah ditekuni Ukraina beberapa tahun sebelumnya. Saat runtuhnya Uni Soviet, Ukraina menyerahkan sejumlah senjata nuklirnya kepada Rusia dengan kompensasi berupa jaminan keamanan. Penyerahan senjata nuklir dan komitmen jaminan keamanan itu tertuang dalam Memorandum Budapest. Namun, Rusia sebagai penjamin keamanan justru menusuk Ukraina dari belakang: mencaplok Crimea pada 2014 dan menginvasi Ukraina pada 2022.

Invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 menunjukkan betapa rapuhnya janji-janji yang tertulis di atas kertas. Meskipun Rusia mencoba menyerang Ukraina pada 2022, setelah lebih dari 3,5 tahun berlalu, Rusia tidak mampu menduduki seluruh wilayah Ukraina, bahkan kota Kyiv sekalipun. Padahal, Rusia digadang-gadang sebagai negara dengan kekuatan militer nomor dua di dunia. Namun, Rusia tidak mampu mengalahkan Ukraina yang kekuatan militernya relatif lemah. Pasca-runtuhnya Uni Soviet, Ukraina tidak memiliki kekuatan militer yang signifikan. Alutsista militer Ukraina kebanyakan merupakan peninggalan era Uni Soviet. Dari segi kuantitas dan kualitas, kekuatan militer Ukraina bisa dikatakan buruk, bahkan Ukraina tidak memiliki angkatan laut yang memadai.

Transformasi Militer Ukraina

Titik balik terjadi pada 2014, sejak Rusia menduduki Crimea. Amerika Serikat dan sekutu berinisiatif mereformasi militer Ukraina menjadi kekuatan militer baru di Eropa Timur. Sekutu dan NATO melatih ribuan personel militer Ukraina: mengajarkan strategi militer defensif dan ofensif, pengintaian, serta intelijen. Selama lebih dari delapan tahun, personel Ukraina menjalani latihan bersama NATO, sehingga militer Ukraina bertransformasi menjadi kekuatan yang modern. Pada 2022, saat invasi Rusia, Ukraina berhasil menghentikan upaya tersebut. Pasukan Rusia berhasil dipukul mundur dari kota Kyiv, Oblast Kharkiv, dan sebagian Oblast Kherson.

Pelatihan militer yang dilakukan NATO terhadap Ukraina merupakan faktor sangat berpengaruh terhadap kesuksesan militer Ukraina. Standar latihan NATO yang diterapkan pada personel militer Ukraina jauh lebih modern, terintegrasi dengan teknologi, dan berfokus pada peperangan asimetris. Sementara itu, doktrin usang Uni Soviet yang mengandalkan pengorbanan jutaan personel di front terdepan tidak lagi relevan.

Doktrin militer Ukraina yang mengikuti standar NATO antara lain sebagai berikut:

- Sistem komando desentralisasi yang tidak terpusat seperti doktrin militer Soviet.

- Operasi militer terintegrasi antara personel infanteri, artileri, kendaraan tempur, dan dukungan udara.

- Sistem hierarki militer mengikuti standar NATO.

- Sistem pertahanan yang mengutamakan kelancaran logistik militer dan dukungan medis.

Dengan menerapkan doktrin militer NATO yang lebih relevan dan modern, militer Ukraina berhasil bertransformasi menjadi militer yang lebih profesional dan berorientasi teknologi. Hasilnya, dengan jumlah personel militer yang jauh lebih sedikit daripada Rusia, militer Ukraina berhasil menahan dan mengalahkan Rusia di banyak front. Hal ini tentu tidak lepas dari doktrin dan strategi militer NATO yang diterapkan oleh militer Ukraina.

Transformasi Menjadi "Big Israel"

Pada awal 2022, Presiden Zelenskyy pernah menyatakan bahwa ia menginginkan Ukraina menjadi "big Israel": tentara bersenjata menjaga bioskop, supermarket, dan fasilitas pemerintah menjadi pemandangan biasa. Model "big Israel" yang menjadi aspirasi Presiden Zelenskyy memang masuk akal karena Ukraina berada dalam ancaman bayang-bayang Rusia, tetangganya sendiri. Hal ini mirip dengan Israel yang mendapat ancaman dari negara-negara Arab sekitarnya.

Ukraina harus menerapkan wajib militer dan meningkatkan anggaran pertahanan hingga sekitar 5% GDP di masa damai (meskipun saat ini, pada 2025, anggaran pertahanan Ukraina mencapai lebih dari 25% GDP karena perang). Dukungan dan bantuan dari sekutu berupa alutsista militer canggih juga mendukung transformasi militer Ukraina.

Israel dan Ukraina memiliki kesamaan unik. Kedua negara sama-sama menghadapi musuh yang ukurannya jauh lebih besar, berbeda ideologi, dan menentang eksistensi negara tetangganya. Rusia memandang kebebasan dan kemerdekaan Ukraina sebagai ancaman terhadap imperialisme Rusia. Negara-negara Arab juga menentang keberadaan Israel di Timur Tengah.

Israel tidak tinggal diam: menerapkan wajib militer, memobilisasi warga negaranya, dan melakukan militerisasi secara masif. Ukraina mengikuti jalan yang sama, dengan memobilisasi warga dan menaikkan anggaran militer hingga tingkat tinggi selama perang. Keberadaan tentara bersenjata di kehidupan masyarakat menjadi hal normal di Israel. Begitu pula di Ukraina, Zelenskyy menyatakan bahwa keberadaan tentara bersenjata di supermarket, bank, dan fasilitas masyarakat akan menjadi pemandangan biasa.

Komitmen Jangka Panjang Sekutu

Jaminan keamanan yang baru-baru ini diusulkan dalam pembicaraan Berlin (Desember 2025) berisi poin-poin penting sebagai berikut:

1. Dukungan Militer Secara Permanen untuk Ukraina

Sekutu memberikan bantuan jangka panjang untuk mendukung kekuatan sekitar 800.000 personel militer Ukraina di masa damai.

2. Pasukan Multinasional yang Dipimpin Eropa

Pasukan multinasional yang dikoordinasikan oleh Eropa dan didukung Amerika, bertujuan menjaga kedaulatan wilayah Ukraina di darat, laut, dan udara, dengan operasi di dalam wilayah Ukraina.

3. Mekanisme untuk Memonitor Gencatan Senjata

Mekanisme pemantauan yang dipimpin AS untuk mendeteksi pelanggaran gencatan senjata, memberikan peringatan, serta respons terhadap pelanggaran.

4. Komitmen Keamanan yang Mengikat dan Legal

Sekutu yang menandatangani wajib memberikan bantuan militer, ekonomi, dan politik jika Rusia menyerang Ukraina lagi (mirip Article 5 NATO, tapi tidak identik).

5. Pemulihan Ekonomi dan Bantuan Rekonstruksi

Bantuan ekonomi untuk memulihkan dan membangun kembali Ukraina.

6. Dukungan Penuh agar Ukraina Bergabung dengan Uni Eropa

Sekutu memberikan dukungan penuh untuk aksesi Ukraina ke Uni Eropa.

Keenam poin ini secara tidak langsung memberikan dukungan eksplisit kepada Ukraina. Dengan dukungan militer dan ekonomi tersebut, Ukraina berpeluang menjadi "big Israel" di masa depan.

Ukraina dan Israel sama-sama tidak menerima jaminan keamanan penuh seperti Article 5 NATO. Hanya dengan dukungan militer dan ekonomi masif, militer Ukraina berpotensi menjadi seperti Israel. Kedua negara di masa depan sama-sama didukung secara finansial dan militer, semakin menunjukkan potensi militerisasi Ukraina seperti Israel.

Langkah awal transformasi ini dapat diwujudkan dengan pengiriman persenjataan modern untuk angkatan darat, udara, dan laut. Berikut persenjataan canggih yang diperlukan sekutu untuk suplai ke Ukraina:

Untuk Angkatan Darat:

- 200–300 unit tank tempur utama M1A1 Abrams.

- 500–800 unit kendaraan infanteri M2 Bradley.

- 600–1.000 unit kendaraan tempur Stryker dengan jamming anti-drone.

- 100 unit peluncur M142 HIMARS dengan rudal ATACMS serta 1.000 rudal jarak pendek.

- 200 unit artileri M109A6 Paladin 155 mm.

- 1 juta unit/tahun proyektil presisi guided 155 mm.

- 20.000 unit rudal Javelin.

- 6–10 unit sistem Patriot PAC-3.

- 2.000 unit drone kamikaze Switchblade dan Puma.

Total dana sekitar 10–20 miliar dolar, bisa melalui pinjaman atau mekanisme khusus.

Untuk Angkatan Udara:

- 150–250 unit jet tempur F-16 C/D Block 70 (beberapa sudah mulai tiba sejak 2024–2025).

- 5.000 unit rudal udara-ke-udara AIM-120D AMRAAM.

- 1.000 unit rudal AGM-88 HARM.

- 5.000 unit bom presisi JDAM-ER.

- 500 unit rudal jelajah AGM-158 JASSM-ER.

- 5 unit MQ-9 Reaper.

- 5 unit E-3 Sentry AWACS.

Total dana sekitar 50–100 miliar dolar, melalui Foreign Military Sales (FMS).

Untuk Angkatan Laut:

- 50 unit kapal patroli Mark VI.

- 500 rudal anti-kapal RGM-84 Harpoon.

- 1.000 unit ranjau laut Quickstrike atau CAPTOR.

Total dana 10–20 miliar dolar, melalui FMS.

Berbagai peralatan militer canggih ini merupakan modal awal untuk mentransformasi Ukraina menjadi "the next Israel" di masa depan.

Ukraina tidak perlu bergabung dengan NATO atau mendapat jaminan keamanan identik Article 5. Model jaminan seperti yang diterima Israel—berbasis dukungan bilateral masif—jauh lebih efektif dan efisien bagi keamanan serta stabilitas Ukraina.

Jika Ukraina menjadi "the next Israel" di masa depan, hal ini akan berdampak positif tidak hanya bagi Ukraina, tetapi juga bagi stabilitas dan keamanan kawasan regional.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Trump, Rusia, dan Cina: Risiko Runtuhnya Tatanan Dunia Liberal

Oleh Dennis Ramadhan Selama Perang Dunia II, rezim Nazi Jerman melakukan invasi brutal ke hampir seluruh negara di Eropa. Tanpa campur tangan Amerika Serikat, besar kemungkinan Eropa akan jatuh sepenuhnya ke tangan Hitler, dan hingga kini benua itu mungkin tidak akan pernah menikmati kebebasan serta demokrasi. Peran Amerika dalam membela sekutu dari kekejaman rezim otoriter pada Perang Dunia II tidak boleh dilupakan oleh negara-negara demokrasi saat ini. Pasca-Perang Dunia II, Amerika terus memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas dan mempertahankan tatanan dunia liberal hingga hari ini. Setelah Perang Dunia II, Amerika berhasil menangkal ancaman nyata dari ideologi komunisme yang dipropagandakan Uni Soviet. Ketika Uni Soviet runtuh pada 1991, Amerika seolah kehilangan “musuh abadi”. Namun, memasuki awal abad ke-21, muncul kekuatan superpower baru yang berpotensi mengancam tatanan demokrasi dunia: Tiongkok (Cina). Pertumbuh...

Rusia vs Ukraina: Dari Mitos Kekuatan Superpower ke Realitas Paper Tiger

Oleh Dennis Ramadhan Tak terasa sudah lebih dari tiga tahun sejak Putin menginstruksikan pasukannya untuk menduduki seluruh Ukraina dalam waktu tiga hari. Perang yang Putin harapkan bisa selesai dalam waktu 3 hari ternyata belum lekas selesai sampai sekarang. Rusia dulunya dikenal sebagai negara dengan pasukan militer nomor 2 terkuat di dunia setelah Amerika Serikat. Namun, setelah perang Rusia-Ukraina berlangsung, fakta menunjukkan hal yang berbeda. Militer Rusia tetap menjadi nomor 2, tetapi bukan di dunia, melainkan di Ukraina. Ini bukan candaan, tetapi fakta yang ada di lapangan. Sampai saat ini pun, Rusia belum mampu meraih superioritas udara di langit Ukraina. Justru kebanyakan jet tempur Rusia berhasil ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara Ukraina. Hal ini sangat ironis mengingat Ukraina hanyalah negara dengan perlengkapan militer yang sudah tua karena menggunakan teknologi peninggalan Soviet. Anehnya, Rusia tidak mampu...