Langsung ke konten utama

Bukan Wilayah, Bukan Kejayaan: Alasan Sebenarnya Rusia Terus Berperang di Ukraina

Oleh Dennis Ramadhan Perang antara Rusia dan Ukraina telah berlangsung selama lebih dari tiga tahun. Suara tank masih mengaum di jalanan, suara artileri dan tembakan senjata masih sangat terdengar jelas. Masyarakat masih dihantui oleh perang yang tak berkesudahan ini. Jutaan personel militer dan warga sipil telah menjadi korban akibat tragedi kemanusiaan terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II. Ukraina secara konsisten menunjukkan keinginannya untuk melakukan gencatan senjata bahkan berdamai dengan Rusia. Namun, pihak Rusia berulang kali mencoba memperpanjang perang dan selalu mengelak untuk melakukan gencatan senjata. Padahal, Presiden Zelenskyy dan Trump sepakat bahwa perang yang tak berkesudahan ini harus segera dihentikan. Sejak tahun 2022, kedua belah pihak telah berulang kali melakukan proses negosiasi damai. Namun, hingga saat ini upaya negosiasi dan mediasi yang dilakukan masih belum menemui jalan terang. Ukraina sebagai p...

Privacy Policy

We at Politik Hitler deeply respect the privacy of our visitors. This document explains what information we collect, how we use it, and your rights as a user.

 1. Information We Collect

a. Information you voluntarily provide  

- Comments (name, email address, website – if you fill out the comment form)  

- Contact or newsletter subscription forms (name and email address)


b. Information collected automatically  

- IP address, browser type, operating system, and visit timestamp  

- Cookies and analytics data (Google Analytics, etc.)  

- Browsing behavior (pages viewed, time spent on site)


 2. How We Use Your Information

We only use your data to:  

- Display and improve the quality of our content  

- Send newsletters (only if you have subscribed)  

- Contact you regarding questions or reports of violations  

- Analyze traffic and user behavior to improve the site  

- Prevent spam, fraud, and illegal activities


3. Cookies & Tracking Technologies

Our site uses essential cookies (required for the site to function) and analytical/advertising cookies (from Google, Facebook, etc.). You can accept, reject, or manage cookies via the cookie banner that appears on your first visit or through your browser settings.


4. Third Parties That May Receive Your Data

We work with the following partners:  

- Google Analytics & Google AdSense  

- Hosting provider (Domainesia)  

- Mailchimp or other newsletter platforms (if applicable)  

All partners are contractually obligated to protect your data in accordance with applicable laws.


5. Data Storage & Security

Your data is stored only as long as necessary or required by law. We use SSL encryption and industry-standard security measures to protect your information.


6. Your Rights Under Indonesian Law (Personal Data Protection Act)

You have the right to:  

- Access, correct, or delete your personal data  

- Withdraw consent (unsubscribe from newsletters at any time)  

- Object to processing or file a complaint  

Please send your request to: dennisramdhan8@gmail.com. We will respond within 72 hours.


 7. Changes to This Privacy Policy

This policy may be updated from time to time. Any changes will be posted on this page and take effect immediately from the date stated above.


AGE POLICY

The Politik Hitler website is intended for users aged 13 years and older.

- We do not knowingly collect personal information from children under 13 years of age.  

- If you are a parent or guardian and discover that your child under 13 has provided us with personal information, please contact us immediately at dennisramdhan8@gmail.com so that we can delete the data.  

- Our content includes news, political opinions, war-related topics, and other mature subjects that are not suitable for children.

By continuing to use this site, you confirm that you are at least 13 years old or have permission from a parent or legal guardian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Trump, Rusia, dan Cina: Risiko Runtuhnya Tatanan Dunia Liberal

Oleh Dennis Ramadhan Selama Perang Dunia II, rezim Nazi Jerman melakukan invasi brutal ke hampir seluruh negara di Eropa. Tanpa campur tangan Amerika Serikat, besar kemungkinan Eropa akan jatuh sepenuhnya ke tangan Hitler, dan hingga kini benua itu mungkin tidak akan pernah menikmati kebebasan serta demokrasi. Peran Amerika dalam membela sekutu dari kekejaman rezim otoriter pada Perang Dunia II tidak boleh dilupakan oleh negara-negara demokrasi saat ini. Pasca-Perang Dunia II, Amerika terus memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas dan mempertahankan tatanan dunia liberal hingga hari ini. Setelah Perang Dunia II, Amerika berhasil menangkal ancaman nyata dari ideologi komunisme yang dipropagandakan Uni Soviet. Ketika Uni Soviet runtuh pada 1991, Amerika seolah kehilangan “musuh abadi”. Namun, memasuki awal abad ke-21, muncul kekuatan superpower baru yang berpotensi mengancam tatanan demokrasi dunia: Tiongkok (Cina). Pertumbuh...

Ukraina: Menuju "Big Israel" di Eropa Timur

Oleh Dennis Ramadhan Di awal invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022, Rusia mencoba menduduki Kyiv dalam waktu tiga hari. Namun, invasi tersebut gagal total berkat bantuan militer dari sekutu serta pelatihan militer yang telah ditekuni Ukraina beberapa tahun sebelumnya. Saat runtuhnya Uni Soviet, Ukraina menyerahkan sejumlah senjata nuklirnya kepada Rusia dengan kompensasi berupa jaminan keamanan. Penyerahan senjata nuklir dan komitmen jaminan keamanan itu tertuang dalam Memorandum Budapest. Namun, Rusia sebagai penjamin keamanan justru menusuk Ukraina dari belakang: mencaplok Crimea pada 2014 dan menginvasi Ukraina pada 2022. Invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 menunjukkan betapa rapuhnya janji-janji yang tertulis di atas kertas. Meskipun Rusia mencoba menyerang Ukraina pada 2022, setelah lebih dari 3,5 tahun berlalu, Rusia tidak mampu menduduki seluruh wilayah Ukraina, bahkan kota Kyiv sekalipun. Padahal, Rusia digadang-gadang sebag...

Rusia vs Ukraina: Dari Mitos Kekuatan Superpower ke Realitas Paper Tiger

Oleh Dennis Ramadhan Tak terasa sudah lebih dari tiga tahun sejak Putin menginstruksikan pasukannya untuk menduduki seluruh Ukraina dalam waktu tiga hari. Perang yang Putin harapkan bisa selesai dalam waktu 3 hari ternyata belum lekas selesai sampai sekarang. Rusia dulunya dikenal sebagai negara dengan pasukan militer nomor 2 terkuat di dunia setelah Amerika Serikat. Namun, setelah perang Rusia-Ukraina berlangsung, fakta menunjukkan hal yang berbeda. Militer Rusia tetap menjadi nomor 2, tetapi bukan di dunia, melainkan di Ukraina. Ini bukan candaan, tetapi fakta yang ada di lapangan. Sampai saat ini pun, Rusia belum mampu meraih superioritas udara di langit Ukraina. Justru kebanyakan jet tempur Rusia berhasil ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara Ukraina. Hal ini sangat ironis mengingat Ukraina hanyalah negara dengan perlengkapan militer yang sudah tua karena menggunakan teknologi peninggalan Soviet. Anehnya, Rusia tidak mampu...