Langsung ke konten utama

Bukan Wilayah, Bukan Kejayaan: Alasan Sebenarnya Rusia Terus Berperang di Ukraina

Oleh Dennis Ramadhan Perang antara Rusia dan Ukraina telah berlangsung selama lebih dari tiga tahun. Suara tank masih mengaum di jalanan, suara artileri dan tembakan senjata masih sangat terdengar jelas. Masyarakat masih dihantui oleh perang yang tak berkesudahan ini. Jutaan personel militer dan warga sipil telah menjadi korban akibat tragedi kemanusiaan terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II. Ukraina secara konsisten menunjukkan keinginannya untuk melakukan gencatan senjata bahkan berdamai dengan Rusia. Namun, pihak Rusia berulang kali mencoba memperpanjang perang dan selalu mengelak untuk melakukan gencatan senjata. Padahal, Presiden Zelenskyy dan Trump sepakat bahwa perang yang tak berkesudahan ini harus segera dihentikan. Sejak tahun 2022, kedua belah pihak telah berulang kali melakukan proses negosiasi damai. Namun, hingga saat ini upaya negosiasi dan mediasi yang dilakukan masih belum menemui jalan terang. Ukraina sebagai p...

Trump, Rusia, dan Cina: Risiko Runtuhnya Tatanan Dunia Liberal

Oleh Dennis Ramadhan

Selama Perang Dunia II, rezim Nazi Jerman melakukan invasi brutal ke hampir seluruh negara di Eropa. Tanpa campur tangan Amerika Serikat, besar kemungkinan Eropa akan jatuh sepenuhnya ke tangan Hitler, dan hingga kini benua itu mungkin tidak akan pernah menikmati kebebasan serta demokrasi. Peran Amerika dalam membela sekutu dari kekejaman rezim otoriter pada Perang Dunia II tidak boleh dilupakan oleh negara-negara demokrasi saat ini. Pasca-Perang Dunia II, Amerika terus memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas dan mempertahankan tatanan dunia liberal hingga hari ini.

Setelah Perang Dunia II, Amerika berhasil menangkal ancaman nyata dari ideologi komunisme yang dipropagandakan Uni Soviet. Ketika Uni Soviet runtuh pada 1991, Amerika seolah kehilangan “musuh abadi”. Namun, memasuki awal abad ke-21, muncul kekuatan superpower baru yang berpotensi mengancam tatanan demokrasi dunia: Tiongkok (Cina). Pertumbuhan ekonomi Tiongkok sejak tahun 2000-an hingga kini terus melonjak secara signifikan. Dari negara miskin, Tiongkok berhasil bermetamorfosis menjadi kekuatan ekonomi nomor dua dunia, bahkan kini terus membayangi posisi Amerika di urutan pertama.

Banyak pengamat menilai Tiongkok sebagai satu-satunya negara yang saat ini memiliki pengaruh kuat dan mampu mengubah tatanan dunia secara fundamental. Rezim Rusia, Tiongkok, Iran, Korea Utara, Venezuela, dan Kuba merupakan kelompok rezim revisionis baru yang bertekad merombak tatanan dunia saat ini. Selama lebih dari delapan dekade, Amerika cukup berhasil mempertahankan stabilitas demokrasi global. Namun, jika Amerika lengah dan membiarkan kekuatan-kekuatan revisionis ini mengubah tatanan dunia, maka destabilisasi besar—baik di bidang ekonomi, politik, maupun sosial—hampir pasti akan terjadi.

Sejarah telah membuktikan bahwa bangkitnya kekuatan ekonomi negara dengan ideologi yang berseberangan dengan penguasa tatanan dunia sering kali memicu destabilisasi hingga berujung perang dunia. Menjelang Perang Dunia I, Kekaisaran Jerman memiliki ekonomi dan industrialisasi yang sangat kuat, sementara penguasa tatanan dunia saat itu—Inggris—justru berada dalam posisi yang kurang menguntungkan. Jerman bersama Austria-Hungaria dan Kesultanan Utsmaniyah menjadi blok revisionis yang ingin menantang hegemoni Inggris. Akibatnya, meletuslah Perang Dunia I. Pola serupa terulang menjelang Perang Dunia II: Jepang sebagai kekuatan revisionis baru bergabung dengan Jerman yang ingin membalas dendam atas kekalahan Perang Dunia I, lalu mendeklarasikan perang terhadap dunia.

Pelajaran sejarah itu jelas: bangkitnya kekuatan ekonomi negara revisionis—terutama yang memiliki ideologi berlawanan—harus diwaspadai secara serius oleh penguasa tatanan dunia. Target utama negara revisionis adalah mengubah tatanan dunia sesuai visi dan kepentingannya sendiri. Di abad ke-21, Tiongkok adalah kekuatan revisionis utama yang berpotensi mengguncang stabilitas global. Bersama Rusia dan Iran, Tiongkok tengah berkolaborasi untuk mengubah tatanan dunia secara permanen.

Sayangnya, kebijakan luar negeri Amerika di bawah kepemimpinan Donald Trump justru menimbulkan kekhawatiran besar. Beberapa kebijakan Trump malah melemahkan tatanan dunia yang selama ini dijaga Amerika sendiri. Sebagai tulang punggung demokrasi global, sudah selayaknya Amerika menerapkan kebijakan yang pro-demokrasi, bukan sebaliknya. Berikut beberapa contoh yang mengkhawatirkan:

1. Pujian berulang Trump terhadap pemimpin otoriter

Trump kerap melontarkan pujian kepada pemimpin Rusia, Tiongkok, bahkan Korea Utara. Hal ini sangat ironis. Sebagai pemimpin negara demokrasi terbesar, seharusnya Trump mengkritik keras para pemimpin otoriter tersebut, bukan justru memujinya. Entah pujian itu murni kekaguman pribadi atau bentuk persetujuan terhadap ideologi anti-demokrasi, dampaknya tetap sama: merusak semangat demokrasi global dan memberi sinyal positif bagi rezim otoriter untuk semakin sewenang-wenang terhadap rakyatnya.

2. Kebijakan isolasionis dan pengabaian sekutu

Dalam satu tahun terakhir, Trump cenderung menarik Amerika dari pergaulan dunia, terutama dengan sekutu tradisionalnya. Ukraina dibiarkan berjuang sendirian, Eropa dimusuhi, sementara Rusia diberi lampu hijau untuk memperluas agresi militernya di Eropa. Ancaman keluar dari NATO semakin memperparah situasi. Kebijakan ini jelas menguntungkan Rusia sebagai kekuatan revisionis di Eropa, sekaligus membahayakan dunia secara keseluruhan. Tiongkok kini bisa menilai bahwa Amerika sudah tidak lagi mampu atau mau mempertahankan tatanan dunia saat ini—membuka peluang bagi Beijing untuk menginvasi Taiwan dan meraih dominasi global.

3. Perang dagang yang melemahkan sekutu

Trump tidak hanya acuh terhadap Eropa, ia bahkan menjadikan sekutu sebagai “musuh” melalui tarif tinggi. Akibatnya, ekonomi negara-negara sekutu melemah—persis sesuai keinginan Rusia yang ingin melihat Eropa rapuh. Rusia bahkan tidak perlu berbuat banyak; Trump sudah melakukannya untuk mereka. Dengan ekonomi yang lemah, proses remiliterisasi Eropa menjadi lambat, sehingga Rusia akan lebih mudah melakukan agresi karena Eropa belum siap.

4. Komitmen terhadap Artikel 5 NATO yang dipertanyakan

Rencana Trump menarik ribuan pasukan Amerika dari Eropa sangat mengkhawatirkan. Jumlah personel NATO saat ini tidak cukup untuk menggantikan peran Amerika dalam situasi darurat. Mobilisasi besar-besaran pun membutuhkan waktu lama. Sikap Trump ini membuat dunia mempertanyakan: jika Rusia menyerang negara Baltik atau Polandia, apakah Amerika masih akan memenuhi kewajiban Artikel 5 NATO? Atau sekutu akan dibiarkan berjuang sendirian?

5. Waktu Eropa semakin sedikit

Amerika di bawah Trump tampaknya sudah tidak lagi berkomitmen menjaga stabilitas tatanan dunia. Eropa harus segera bangkit dan melakukan remiliterisasi secara besar-besaran untuk menghadapi ancaman nyata dari Rusia. Ketergantungan berlebihan pada Amerika untuk keamanan regional harus diakhiri. Jika Eropa tidak bertindak sekarang, kebebasan dan demokrasi yang dinikmati saat ini akan lenyap.

Seperti kata Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte baru-baru ini:

“Jika negara-negara Eropa tidak segera berbenah, mungkin suatu saat warga Eropa harus mulai belajar bahasa Rusia.”

Waktu terus berjalan.

Eropa harus berbenah sekarang.

Pasifisme harus ditinggalkan.

Militerisasi bukan lagi agresi, melainkan tindakan defensif yang mendesak.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ukraina: Menuju "Big Israel" di Eropa Timur

Oleh Dennis Ramadhan Di awal invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022, Rusia mencoba menduduki Kyiv dalam waktu tiga hari. Namun, invasi tersebut gagal total berkat bantuan militer dari sekutu serta pelatihan militer yang telah ditekuni Ukraina beberapa tahun sebelumnya. Saat runtuhnya Uni Soviet, Ukraina menyerahkan sejumlah senjata nuklirnya kepada Rusia dengan kompensasi berupa jaminan keamanan. Penyerahan senjata nuklir dan komitmen jaminan keamanan itu tertuang dalam Memorandum Budapest. Namun, Rusia sebagai penjamin keamanan justru menusuk Ukraina dari belakang: mencaplok Crimea pada 2014 dan menginvasi Ukraina pada 2022. Invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 menunjukkan betapa rapuhnya janji-janji yang tertulis di atas kertas. Meskipun Rusia mencoba menyerang Ukraina pada 2022, setelah lebih dari 3,5 tahun berlalu, Rusia tidak mampu menduduki seluruh wilayah Ukraina, bahkan kota Kyiv sekalipun. Padahal, Rusia digadang-gadang sebag...

Rusia vs Ukraina: Ketika Negara Tanpa Angkatan Laut Mengalahkan Armada Laut Terkuat Ketiga Dunia

Oleh Dennis Ramadhan Dalam peperangan, peranan angkatan laut sangatlah krusial. Tanpa adanya angkatan laut, perang tidak mungkin akan bisa dimenangkan dengan mudah. Sejarah membuktikan bahwa negara yang memiliki pasukan matra laut yang kuat mampu menguasai dunia. Inggris pada era abad ke-19–20 memiliki angkatan laut yang sangat kuat hingga mampu menguasai 25% wilayah dunia termasuk koloni-koloninya di belahan bumi selatan. Jerman pada Perang Dunia I mengalami kesulitan menghadapi Sekutu berkat blokade militer terutama di laut yang dilakukan oleh Inggris. Amerika juga bukan pengecualian; Amerika membangun angkatan lautnya menjadi yang terkuat di bumi saat ini. Amerika memiliki 11 kapal induk dan ratusan kapal perang, menunjukkan ambisi dominasi matra laut yang kuat. Tidak cukup dengan Amerika, Cina yang merupakan rival abadi Amerika saat ini tidak mau ketinggalan. Saat ini Cina membangun kekuatan matra lautnya dengan serius. Di...