Langsung ke konten utama

Bukan Wilayah, Bukan Kejayaan: Alasan Sebenarnya Rusia Terus Berperang di Ukraina

Oleh Dennis Ramadhan Perang antara Rusia dan Ukraina telah berlangsung selama lebih dari tiga tahun. Suara tank masih mengaum di jalanan, suara artileri dan tembakan senjata masih sangat terdengar jelas. Masyarakat masih dihantui oleh perang yang tak berkesudahan ini. Jutaan personel militer dan warga sipil telah menjadi korban akibat tragedi kemanusiaan terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II. Ukraina secara konsisten menunjukkan keinginannya untuk melakukan gencatan senjata bahkan berdamai dengan Rusia. Namun, pihak Rusia berulang kali mencoba memperpanjang perang dan selalu mengelak untuk melakukan gencatan senjata. Padahal, Presiden Zelenskyy dan Trump sepakat bahwa perang yang tak berkesudahan ini harus segera dihentikan. Sejak tahun 2022, kedua belah pihak telah berulang kali melakukan proses negosiasi damai. Namun, hingga saat ini upaya negosiasi dan mediasi yang dilakukan masih belum menemui jalan terang. Ukraina sebagai p...

Perang 12 Hari Dengan Iran, Militer Israel Lebih Superior

Oleh Dennis Ramadhan

Ada satu fakta yang sangat menarik: Amerika Serikat merupakan negara demokrasi di benua Amerika, tetapi bertetangga dengan Kuba yang menganut sistem komunis. Ukuran wilayah Amerika Serikat jauh lebih besar dibandingkan Kuba. Di belahan bumi bagian timur, terdapat Republik Rakyat Cina yang juga komunis, tetapi bertetangga dengan Taiwan yang menerapkan sistem demokrasi. Ukuran wilayah Cina pun jauh lebih besar daripada Taiwan. Sungguh suatu kemiripan yang sangat menarik jika dikaji dari sudut pandang geopolitik.

Sejak mendeklarasikan berdirinya Republik Rakyat Cina pada tahun 1949, Cina selalu mengklaim bahwa Taiwan adalah bagian dari wilayahnya. Menariknya, Cina menegaskan kebijakan “Satu Cina” — bahwa hanya ada satu Cina di dunia, yaitu Republik Rakyat Cina — namun ironisnya, Cina tidak pernah benar-benar memerintah atau menguasai Taiwan secara langsung. Hal ini bukanlah sesuatu yang aneh atau tidak wajar; sejarah panjang antara keduanya telah menciptakan situasi seperti yang kita lihat saat ini. Sebelum tahun 1949, Cina daratan dan Taiwan (saat itu masih bagian dari Republik Cina) telah berulang kali terlibat perang saudara, hingga akhirnya rezim komunis memenangkan pertempuran dan rezim nasionalis melarikan diri ke pulau Taiwan.

Sampai saat ini, Cina tetap mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya meskipun tidak pernah menguasainya. Di sisi lain, Taiwan memandang dirinya sebagai negara berdaulat yang setara dengan negara-negara lain di dunia. Namun, sebagian besar negara di dunia — termasuk PBB — tidak mengakui Taiwan sebagai negara merdeka, melainkan sebagai bagian dari “satu Cina”. Meskipun demikian, kedaulatan de facto dan keutuhan wilayah Taiwan tetap dihormati di panggung internasional.

Sebagai wilayah yang berdaulat de facto, Taiwan memiliki hak penuh untuk mempertahankan kedaulatannya serta sistem demokrasinya. Seharusnya Cina, sebagai kekuatan ekonomi baru dunia, menghormati realitas tersebut. Sayangnya, beberapa tahun belakangan ini Cina justru semakin sering melanggar kedaulatan Taiwan: jet tempur Cina berulang kali memasuki Zona Identifikasi Pertahanan Udara (ADIZ) Taiwan di Selat Taiwan, tekanan diplomatik dan ekonomi terus meningkat, serta serangan siber terhadap institusi pemerintah Taiwan semakin sering dan masif setiap tahunnya.

Semua upaya tersebut bertujuan agar Taiwan mau melakukan reunifikasi dengan Cina daratan. Secara resmi, Cina menyatakan lebih mengutamakan reunifikasi secara damai, tetapi tidak pernah menutup opsi penggunaan kekuatan militer jika jalur damai gagal. Karena ancaman invasi itu nyata, wajar jika Taiwan terus meningkatkan kualitas alutsista dan kesiapan militernya agar Cina berpikir seribu kali sebelum melancarkan serangan.

Memang, kekuatan militer Cina jauh lebih superior dibandingkan Taiwan baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Namun, menaklukkan Taiwan bukan perkara mudah karena keduanya dipisahkan oleh Selat Taiwan selebar sekitar 160 km. Satu-satunya cara bagi Cina untuk menguasai pulau itu adalah melalui operasi pendaratan amfibi berskala besar — operasi yang sangat berisiko dan mahal.

Menghadapi potensi invasi di masa depan, Taiwan tidak tinggal diam. Belakangan ini, Presiden Taiwan Lai Ching-te mengalokasikan anggaran pertahanan hingga sekitar 40 miliar dolar AS sebagai persiapan menghadapi ancaman invasi Cina yang sering disebut-sebut akan terjadi sekitar tahun 2027. Langkah ini sangat krusial. Dengan dana tersebut, Taiwan dapat memodernisasi persenjataannya, membeli alutsista canggih dari Amerika Serikat (seperti tank, artileri, dan sistem pertahanan udara), serta mengadopsi taktik perang asimetris yang terbukti berhasil digunakan Ukraina melawan Rusia.

Taiwan juga terus mengembangkan rudal anti-kapal andalannya, Hsiung Feng seri terbaru (HF-2E dan HF-3), yang mampu menghancurkan kapal-kapal perang dan kapal pengangkut pasukan Cina sebelum mereka mendekati pantai. Selain itu, Taiwan mengimpor senjata-senjata yang terbukti mematikan dalam perang asimetris: rudal anti-tank Javelin dan rudal anti-pesawat portabel Stinger — dua senjata yang sama yang membuat pasukan Rusia babak belur pada minggu-minggu awal invasi Ukraina.

Dukungan militer dan ekonomi dari Amerika Serikat tetap menjadi faktor penentu. Tanpa keterlibatan langsung AS, banyak analis memperkirakan Taiwan hanya mampu bertahan 1–2 bulan. Oleh karena itu, jika invasi benar-benar terjadi, Amerika Serikat harus turun tangan — setidaknya dengan mendeklarasikan No-Fly Zone di atas Taiwan, mengerahkan kekuatan udara dan kapal induknya, serta memanfaatkan kapal selam kelas Ohio yang membawa ratusan rudal Tomahawk untuk menghancurkan armada invasi Cina dari jarak jauh.

Namun, sebesar apa pun dukungan Amerika, pada akhirnya kesiapan mempertahankan kedaulatan kembali kepada rakyat dan pemerintah Taiwan sendiri. Presiden Lai Ching-te sejauh ini telah mengambil langkah-langkah yang tepat dalam memperkuat pertahanan nasional, tetapi yang tidak kalah penting adalah mempersiapkan seluruh masyarakat Taiwan — baik secara mental maupun material — untuk menghadapi tantangan geopolitik terbesar yang mungkin datang dalam waktu dekat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Trump, Rusia, dan Cina: Risiko Runtuhnya Tatanan Dunia Liberal

Oleh Dennis Ramadhan Selama Perang Dunia II, rezim Nazi Jerman melakukan invasi brutal ke hampir seluruh negara di Eropa. Tanpa campur tangan Amerika Serikat, besar kemungkinan Eropa akan jatuh sepenuhnya ke tangan Hitler, dan hingga kini benua itu mungkin tidak akan pernah menikmati kebebasan serta demokrasi. Peran Amerika dalam membela sekutu dari kekejaman rezim otoriter pada Perang Dunia II tidak boleh dilupakan oleh negara-negara demokrasi saat ini. Pasca-Perang Dunia II, Amerika terus memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas dan mempertahankan tatanan dunia liberal hingga hari ini. Setelah Perang Dunia II, Amerika berhasil menangkal ancaman nyata dari ideologi komunisme yang dipropagandakan Uni Soviet. Ketika Uni Soviet runtuh pada 1991, Amerika seolah kehilangan “musuh abadi”. Namun, memasuki awal abad ke-21, muncul kekuatan superpower baru yang berpotensi mengancam tatanan demokrasi dunia: Tiongkok (Cina). Pertumbuh...

Ukraina: Menuju "Big Israel" di Eropa Timur

Oleh Dennis Ramadhan Di awal invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022, Rusia mencoba menduduki Kyiv dalam waktu tiga hari. Namun, invasi tersebut gagal total berkat bantuan militer dari sekutu serta pelatihan militer yang telah ditekuni Ukraina beberapa tahun sebelumnya. Saat runtuhnya Uni Soviet, Ukraina menyerahkan sejumlah senjata nuklirnya kepada Rusia dengan kompensasi berupa jaminan keamanan. Penyerahan senjata nuklir dan komitmen jaminan keamanan itu tertuang dalam Memorandum Budapest. Namun, Rusia sebagai penjamin keamanan justru menusuk Ukraina dari belakang: mencaplok Crimea pada 2014 dan menginvasi Ukraina pada 2022. Invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 menunjukkan betapa rapuhnya janji-janji yang tertulis di atas kertas. Meskipun Rusia mencoba menyerang Ukraina pada 2022, setelah lebih dari 3,5 tahun berlalu, Rusia tidak mampu menduduki seluruh wilayah Ukraina, bahkan kota Kyiv sekalipun. Padahal, Rusia digadang-gadang sebag...

Rusia vs Ukraina: Dari Mitos Kekuatan Superpower ke Realitas Paper Tiger

Oleh Dennis Ramadhan Tak terasa sudah lebih dari tiga tahun sejak Putin menginstruksikan pasukannya untuk menduduki seluruh Ukraina dalam waktu tiga hari. Perang yang Putin harapkan bisa selesai dalam waktu 3 hari ternyata belum lekas selesai sampai sekarang. Rusia dulunya dikenal sebagai negara dengan pasukan militer nomor 2 terkuat di dunia setelah Amerika Serikat. Namun, setelah perang Rusia-Ukraina berlangsung, fakta menunjukkan hal yang berbeda. Militer Rusia tetap menjadi nomor 2, tetapi bukan di dunia, melainkan di Ukraina. Ini bukan candaan, tetapi fakta yang ada di lapangan. Sampai saat ini pun, Rusia belum mampu meraih superioritas udara di langit Ukraina. Justru kebanyakan jet tempur Rusia berhasil ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara Ukraina. Hal ini sangat ironis mengingat Ukraina hanyalah negara dengan perlengkapan militer yang sudah tua karena menggunakan teknologi peninggalan Soviet. Anehnya, Rusia tidak mampu...