Langsung ke konten utama

Bukan Wilayah, Bukan Kejayaan: Alasan Sebenarnya Rusia Terus Berperang di Ukraina

Oleh Dennis Ramadhan Perang antara Rusia dan Ukraina telah berlangsung selama lebih dari tiga tahun. Suara tank masih mengaum di jalanan, suara artileri dan tembakan senjata masih sangat terdengar jelas. Masyarakat masih dihantui oleh perang yang tak berkesudahan ini. Jutaan personel militer dan warga sipil telah menjadi korban akibat tragedi kemanusiaan terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II. Ukraina secara konsisten menunjukkan keinginannya untuk melakukan gencatan senjata bahkan berdamai dengan Rusia. Namun, pihak Rusia berulang kali mencoba memperpanjang perang dan selalu mengelak untuk melakukan gencatan senjata. Padahal, Presiden Zelenskyy dan Trump sepakat bahwa perang yang tak berkesudahan ini harus segera dihentikan. Sejak tahun 2022, kedua belah pihak telah berulang kali melakukan proses negosiasi damai. Namun, hingga saat ini upaya negosiasi dan mediasi yang dilakukan masih belum menemui jalan terang. Ukraina sebagai p...

7 Negara yang Pernah Jaya, Kini Hanya Tinggal Nama di Buku Sejarah

 Oleh Dennis Ramadhan

“Tidak ada yang abadi di dunia ini,” setidaknya begitulah seorang bijak pernah berkata. Apa pun yang ada di dunia kita saat ini, suatu saat pasti akan sirna. Begitu pula halnya dengan negara. Beberapa negara di dunia kini hanya tinggal sejarah dan tak lagi meninggalkan jejak di peta modern. Bahkan negara yang dulu terkenal kuat dan jaya, yang menerbitkan paspor, mengirim duta besar ke PBB, lambat laun bisa lenyap dari muka bumi.

Negara yang dulu eksis dan berjaya, kini terpuruk dalam kekacauan dan kemunduran hingga akhirnya bubar atau kehilangan fungsinya sebagai negara. Hancurnya atau gagalnya suatu negara tidak semata-mata disebabkan oleh kemiskinan atau perang saudara belaka. Ada banyak faktor yang meruntuhkan legitimasi pemerintah di mata rakyatnya, hingga akhirnya negara tersebut kolaps. Berikut adalah beberapa negara yang kini hilang ditelan masa.

1. Yugoslavia (1918–1991)

Yugoslavia adalah negara komunis yang lahir setelah Perang Dunia I. Sebagai negara komunis, pemimpinnya dikenal sangat otoriter. Yugoslavia termasuk negara berpendapatan menengah di Eropa dengan stabilitas ekonomi dan politik yang relatif baik dibandingkan negara-negara Blok Timur lainnya.

Namun, ketika Presiden Josip Broz Tito meninggal dunia pada tahun 1980, Yugoslavia mulai mengalami destabilisasi di bidang ekonomi, sosial, dan politik. Layaknya Uni Soviet, negara ini akhirnya terpecah menjadi beberapa negara kecil yang merdeka. Slovenia dan Kroasia mendeklarasikan kemerdekaan pada tahun 1991, diikuti Bosnia pada tahun 1992. Disintegrasi Yugoslavia memicu perang paling mematikan di Eropa sejak Perang Dunia II, terutama di Sarajevo dan Vukovar. Sekitar 140.000 orang tewas dan 4 juta orang kehilangan tempat tinggal.

Runtuhnya Yugoslavia mengajarkan kepada kita bahwa sistem kepemimpinan yang bergantung pada satu orang diktator tidak akan pernah stabil jangka panjang. Sistem demokrasi memang bukan sistem yang sempurna, tetapi setidaknya lebih mampu menampung aspirasi masyarakat dan terhindar dari kekerasan serta opresi militer. Kini bekas Yugoslavia telah terpecah menjadi tujuh negara merdeka: Slovenia, Kroasia, Bosnia dan Herzegovina, Serbia, Montenegro, Makedonia Utara, dan Kosovo.

2. Somalia (1991–sekarang)

Mendengar nama Somalia, yang langsung terlintas di benak kita adalah negara dengan bajak laut paling ganas di lautan. Bajak laut Somalia pernah menguasai jalur pelayaran internasional, membajak kapal, menyandera awak kapal, dan memeras keluarga korban.

Somalia adalah salah satu contoh negara gagal paling parah di era modern. Pada tahun 1991, diktator Siad Barre digulingkan. Akibatnya, negara ini terpecah belah dan dikuasai berbagai klan bersenjata. Somalia juga mengalami bencana kelaparan hebat pada tahun 1991–1992 dan 2011. Kelompok teroris Al-Shabaab hingga kini masih beroperasi dan menguasai sebagian besar wilayah. Pemerintah Federal Somalia adalah satu-satunya pemerintahan yang diakui dunia internasional, tetapi hanya menguasai sebagian kecil wilayah, itupun dengan bantuan pasukan Uni Afrika.

Somalia akan terus menjadi negara gagal jika pemerintah dan komunitas internasional tidak serius tidak memberikan perhatian nyata terhadap nasib rakyatnya.

3. Vietnam Selatan (1955–1975)

Republik Vietnam atau Vietnam Selatan adalah negara yang pernah eksis di era Perang Dingin. Negara ini diakui dunia internasional, menjadi anggota PBB, beribukota di Saigon (kini Ho Chi Minh City), dan menganut sistem demokrasi dengan dukungan penuh Amerika Serikat.

Secara ekonomi dan politik, Vietnam Selatan sebenarnya cukup stabil dan tidak memiliki konflik internal separah negara-negara gagal lainnya. Namun, ketika Amerika Serikat menarik pasukannya dan memangkas bantuan militer, Vietnam Utara yang komunis langsung melancarkan serangan besar-besaran. Pada tahun 1975, Vietnam Selatan jatuh sepenuhnya. Negara ini lenyap dari peta dan wilayahnya digabung menjadi Republik Sosialis Vietnam yang kita kenal hingga saat ini.

4. Republik Demokratik Afghanistan (1978–1992)

Republik ini adalah rezim komunis yang didirikan setelah Revolusi Saur 1978 dan menjadi negara boneka Uni Soviet. Setelah kudeta, negara ini langsung dilanda kekacauan dan perang saudara. Uni Soviet melakukan invasi militer pada tahun 1979, menjadikan Afghanistan sebagai medan perang proksi antara Blok Barat dan Blok Timur. Amerika Serikat mendukung mujahidin anti-pemerintah, sementara Uni Soviet mendukung pemerintah komunis.

Ketika Uni Soviet menarik pasukannya pada tahun 1989, rezim komunis di Kabul akhirnya runtuh pada tahun 1992. Mujahidin merebut kekuasaan, tetapi kemudian saling bertempur, membuka jalan bagi munculnya Taliban beberapa tahun kemudian.

5. Rhodesia → Zimbabwe-Rhodesia → Zimbabwe (1965–sekarang)

Pada tahun 1965, Rhodesia (sekarang Zimbabwe) mendeklarasikan kemerdekaan sepihak dari Inggris dan menjadi negara paria karena sistem apartheid-nya. Awalnya negara ini cukup makmur dan memiliki standar hidup tertinggi di Afrika. Namun setelah perang gerilya yang panjang, Perjanjian Lancaster House 1979 menghasilkan negara sementara bernama Zimbabwe-Rhodesia, sebelum akhirnya menjadi Republik Zimbabwe pada tahun 1980 di bawah kepemimpinan Robert Mugabe.

Di bawah rezim otoriter Mugabe dan penerusnya, Zimbabwe berubah dari lumbung pangan Afrika menjadi negara dengan hiperinflasi terparah dalam sejarah—mencapai 79,6 miliar persen per bulan pada November 2008. Zimbabwe kini secara formal masih ada di peta, tetapi secara ekonomi, sosial, dan pelayanan publik sudah lama “mati”.

6. Libya (2011–sekarang)

Dulu Libya adalah negara dengan pendapatan per kapita tertinggi di Afrika. Indeks Pembangunan Manusianya bahkan lebih tinggi daripada Rusia atau Brasil pada masanya. Namun, setelah rezim Muammar Gaddafi runtuh pada tahun 2011 akibat intervensi Barat dan pemberontakan dalam negeri, negara ini langsung jatuh ke dalam kekacauan besar. Perang saudara, ratusan milisi bersenjata, munculnya pasar budak terbuka, hingga negara ini pernah memiliki tiga pemerintahan sekaligus yang saling mengaku sah. Hingga kini, setelah 14 tahun, Libya masih terbelah dan belum menemukan stabilitas.

7. Yaman (2014–sekarang)

Sebelum tahun 2011, Yaman relatif stabil meski miskin. Namun, gelombang Arab Spring berhasil menggulingkan Presiden Ali Abdullah Saleh. Kekosongan kekuasaan dimanfaatkan kelompok Houthi (didukung Iran) untuk merebut Sana’a pada tahun 2014. Arab Saudi yang khawatir akan pengaruh Iran kemudian melakukan intervensi militer besar-besaran sejak 2015 hingga sekarang.

Perang proksi Iran–Arab Saudi ini telah menewaskan sekitar 377.000 orang (sebagian besar karena kelaparan dan penyakit), membuat 24 juta jiwa (80 % penduduk) bergantung pada bantuan kemanusiaan, serta memicu wabah kolera terburuk dalam sejarah modern.

Itulah beberapa dari sekian banyak negara yang gagal atau bahkan sirna dari peta dunia. Masih banyak lagi negara lain yang masuk kategori “negara gagal” hingga hari ini. Tak ada yang abadi. Negara sehebat apa pun, pada waktunya juga akan hilang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Trump, Rusia, dan Cina: Risiko Runtuhnya Tatanan Dunia Liberal

Oleh Dennis Ramadhan Selama Perang Dunia II, rezim Nazi Jerman melakukan invasi brutal ke hampir seluruh negara di Eropa. Tanpa campur tangan Amerika Serikat, besar kemungkinan Eropa akan jatuh sepenuhnya ke tangan Hitler, dan hingga kini benua itu mungkin tidak akan pernah menikmati kebebasan serta demokrasi. Peran Amerika dalam membela sekutu dari kekejaman rezim otoriter pada Perang Dunia II tidak boleh dilupakan oleh negara-negara demokrasi saat ini. Pasca-Perang Dunia II, Amerika terus memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas dan mempertahankan tatanan dunia liberal hingga hari ini. Setelah Perang Dunia II, Amerika berhasil menangkal ancaman nyata dari ideologi komunisme yang dipropagandakan Uni Soviet. Ketika Uni Soviet runtuh pada 1991, Amerika seolah kehilangan “musuh abadi”. Namun, memasuki awal abad ke-21, muncul kekuatan superpower baru yang berpotensi mengancam tatanan demokrasi dunia: Tiongkok (Cina). Pertumbuh...

Ukraina: Menuju "Big Israel" di Eropa Timur

Oleh Dennis Ramadhan Di awal invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022, Rusia mencoba menduduki Kyiv dalam waktu tiga hari. Namun, invasi tersebut gagal total berkat bantuan militer dari sekutu serta pelatihan militer yang telah ditekuni Ukraina beberapa tahun sebelumnya. Saat runtuhnya Uni Soviet, Ukraina menyerahkan sejumlah senjata nuklirnya kepada Rusia dengan kompensasi berupa jaminan keamanan. Penyerahan senjata nuklir dan komitmen jaminan keamanan itu tertuang dalam Memorandum Budapest. Namun, Rusia sebagai penjamin keamanan justru menusuk Ukraina dari belakang: mencaplok Crimea pada 2014 dan menginvasi Ukraina pada 2022. Invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 menunjukkan betapa rapuhnya janji-janji yang tertulis di atas kertas. Meskipun Rusia mencoba menyerang Ukraina pada 2022, setelah lebih dari 3,5 tahun berlalu, Rusia tidak mampu menduduki seluruh wilayah Ukraina, bahkan kota Kyiv sekalipun. Padahal, Rusia digadang-gadang sebag...

Rusia vs Ukraina: Ketika Negara Tanpa Angkatan Laut Mengalahkan Armada Laut Terkuat Ketiga Dunia

Oleh Dennis Ramadhan Dalam peperangan, peranan angkatan laut sangatlah krusial. Tanpa adanya angkatan laut, perang tidak mungkin akan bisa dimenangkan dengan mudah. Sejarah membuktikan bahwa negara yang memiliki pasukan matra laut yang kuat mampu menguasai dunia. Inggris pada era abad ke-19–20 memiliki angkatan laut yang sangat kuat hingga mampu menguasai 25% wilayah dunia termasuk koloni-koloninya di belahan bumi selatan. Jerman pada Perang Dunia I mengalami kesulitan menghadapi Sekutu berkat blokade militer terutama di laut yang dilakukan oleh Inggris. Amerika juga bukan pengecualian; Amerika membangun angkatan lautnya menjadi yang terkuat di bumi saat ini. Amerika memiliki 11 kapal induk dan ratusan kapal perang, menunjukkan ambisi dominasi matra laut yang kuat. Tidak cukup dengan Amerika, Cina yang merupakan rival abadi Amerika saat ini tidak mau ketinggalan. Saat ini Cina membangun kekuatan matra lautnya dengan serius. Di...