Langsung ke konten utama

Bukan Wilayah, Bukan Kejayaan: Alasan Sebenarnya Rusia Terus Berperang di Ukraina

Oleh Dennis Ramadhan Perang antara Rusia dan Ukraina telah berlangsung selama lebih dari tiga tahun. Suara tank masih mengaum di jalanan, suara artileri dan tembakan senjata masih sangat terdengar jelas. Masyarakat masih dihantui oleh perang yang tak berkesudahan ini. Jutaan personel militer dan warga sipil telah menjadi korban akibat tragedi kemanusiaan terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II. Ukraina secara konsisten menunjukkan keinginannya untuk melakukan gencatan senjata bahkan berdamai dengan Rusia. Namun, pihak Rusia berulang kali mencoba memperpanjang perang dan selalu mengelak untuk melakukan gencatan senjata. Padahal, Presiden Zelenskyy dan Trump sepakat bahwa perang yang tak berkesudahan ini harus segera dihentikan. Sejak tahun 2022, kedua belah pihak telah berulang kali melakukan proses negosiasi damai. Namun, hingga saat ini upaya negosiasi dan mediasi yang dilakukan masih belum menemui jalan terang. Ukraina sebagai p...

Ambisi Neo-Soviet Putin: Membangun Kembali Uni Soviet di Abad ke-21

Oleh Dennis Ramadhan

Baru-baru ini, intelijen Amerika Serikat memperingatkan dunia bahwa Vladimir Putin memiliki ambisi untuk mencaplok seluruh wilayah Ukraina serta sebagian negara Eropa yang pernah menjadi bagian Uni Soviet. Artinya, imperialisme Putin tidak hanya terbatas pada Ukraina, tetapi juga mencakup negara-negara Baltik dan Polandia. Peringatan ini sangat bertolak belakang dengan pernyataan publik Putin, yang berulang kali menyatakan bahwa Rusia tidak ingin berperang dengan Eropa atau mencaplok seluruh Ukraina. Bagi saya dan banyak pengamat politik, temuan intelijen AS ini sama sekali tidak mengejutkan. Penyebab utama invasi Rusia ke Ukraina bukanlah sekadar denazifikasi atau demiliterisasi, melainkan pandangan neo-Soviet Putin yang ingin membangun kembali Uni Soviet di abad ke-21.

Bagi Putin, Ukraina bukan hanya negara bekas jajahan Uni Soviet, tetapi juga bukan negara yang benar-benar merdeka. Ia memandang Ukraina sebagai bagian tak terpisahkan dari Rusia. Pada tahun 2005, Putin menyatakan bahwa runtuhnya Uni Soviet merupakan “bencana geopolitik terbesar abad ini”. Pernyataan itu menunjukkan betapa ia menyesali hilangnya status Uni Soviet sebagai superpower dan memiliki visi neo-Soviet yang kuat. Pandangan politiknya semakin mengungkap ambisi tersembunyi yang tidak pernah ia tunjukkan secara terbuka kepada dunia.

Perang Rusia-Ukraina Tahun 2022

Pada tahun 2022, Rusia melancarkan perang terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II. Invasi ke Ukraina ini mengguncang stabilitas tatanan dunia yang telah dibangun pasca-Perang Dunia II. Putin mengklaim invasi dilakukan untuk mencegah ekspansi militer NATO ke perbatasannya. Namun, niat sebenarnya jauh lebih besar: Ukraina hanyalah batu loncatan awal bagi misi imperialisme Putin. Jika Ukraina jatuh ke tangan Rusia, negara-negara Baltik dan Polandia akan menjadi target berikutnya.

Ambisi Putin melampaui akal sehat kebanyakan orang. Ukraina bukanlah akhir, melainkan bagian dari rencana besar untuk mencaplok sebagian besar Eropa Timur. Ia sangat ingin membangun kembali Uni Soviet dan mengembalikan Rusia ke masa kejayaannya. Secara historis dan kultural, Putin mengklaim bahwa Ukraina adalah bagian dari Rusia, bahkan menyebut Rusia dan Ukraina sebagai “one people”. Klaim ini sama sekali tidak berdasar, karena di abad ke-21, kedaulatan wilayah negara harus dihormati. Menjustifikasi pencaplokan dengan kedekatan budaya jelas melanggar hukum internasional.

Putin awalnya berharap bisa menguasai seluruh Ukraina dalam tiga hari. Nyatanya, setelah lebih dari tiga tahun perang berlangsung, Rusia masih gagal menduduki Ukraina sepenuhnya. Ukraina adalah gerbang utama menuju target-target lain dalam misi imperialisme Putin.

Memahami Cara Berpikir Putin

Untuk memahami pandangan Putin terhadap dunia, kita harus kembali ke masa keberadaan Uni Soviet. Pada tahun 1991, stagnasi ekonomi yang berkepanjangan, pergolakan nasionalisme di berbagai wilayah, serta reformasi Gorbachev menyebabkan bubarnya negara komunis tersebut. Bagi banyak masyarakat Rusia, runtuhnya Uni Soviet adalah tragedi besar karena Rusia kehilangan status superpower, wilayah luas, serta pengaruh global. Putin, yang saat itu menjabat sebagai agen KGB, juga turut menyesali peristiwa itu.

Ketika berkuasa pada tahun 1999, Putin bertekad mengembalikan kejayaan Rusia. Di awal kepemimpinannya, ia membangun pemerintahan yang sangat terpusat di bawah kendalinya, mengekang oligarki, dan memulihkan ekonomi melalui ekspor energi.

Putin berulang kali menyatakan bahwa Ukraina adalah buatan Lenin dan Bolshevik, serta menolak statusnya sebagai negara berdaulat. Dalam esainya tahun 2021, ia menegaskan bahwa Rusia dan Ukraina adalah “one people”. Retorika ini semakin kuat menjelang invasi 2022, di mana Putin mengklaim operasinya bertujuan untuk denazifikasi dan demiliterisasi—klaim yang sama sekali tidak berdasar.

Putin juga memandang Eropa sebagai perpanjangan imperialisme Amerika. Dalam Konferensi Keamanan Munich tahun 2007, ia mengecam ekspansi NATO ke Eropa Timur sebagai pelanggaran terhadap tatanan dunia pasca-Perang Dunia II.

Pandangan Neo-Soviet Putin

Sepanjang tahun 2025, pernyataan Putin semakin meyakinkan banyak pihak bahwa ambisinya jauh melampaui Ukraina. Dalam konferensi pers pada 19 Desember lalu, ia menegaskan bahwa tujuan operasi militer di Ukraina belum berubah: menghilangkan akar masalah, yaitu ekspansi NATO ke Eropa Timur.

Pada awal Juni, penasihat Putin, Anton Kobyakov, bahkan menyatakan bahwa Uni Soviet masih eksis secara legal dan konflik dengan Ukraina adalah urusan internal Rusia. Meski bukan pernyataan langsung dari Putin, pandangan ini mencerminkan ideologi yang mendasari pemerintahannya. Pada November, Menteri Pertahanan Belanda Ruben Brekelmans menyatakan bahwa Putin ingin membangun kembali Uni Soviet. Kanselir Jerman Friedrich Merz mengatakan hal serupa: Putin berniat mencaplok negara-negara bekas jajahan Soviet untuk mengembalikan Uni Soviet.

Perang di Ukraina sebagai Uji Ambisi Imperialisme

Perang di Ukraina menjadi ujian nyata bagi aspirasi imperialisme Putin. Rusia kini menguasai sekitar 20% wilayah Ukraina. Putin memanfaatkan pasukan Korea Utara dan drone Iran untuk memperpanjang konflik demi ambisi pribadinya.

Para ahli menilai tindakan Putin menunjukkan keinginan untuk menduduki seluruh Ukraina dengan alasan-alasan yang tidak berdasar. Selain itu, Rusia melancarkan perang hybrid terhadap Eropa melalui serangan siber, disinformasi, dan sabotase infrastruktur. Putin juga membentuk aliansi dengan negara-negara paria seperti China, Iran, dan Korea Utara (poros CRINK) untuk menantang dominasi Barat.

Negara Baltik dalam Ancaman

Jika Putin berhasil menguasai Ukraina, Eropa akan menjadi target berikutnya. Negara-negara Baltik—Lithuania, Latvia, dan Estonia—sangat rentan karena memiliki minoritas Rusia yang cukup besar. Dengan dalih “melindungi” minoritas Rusia (seperti yang digunakan di Donbas dan Luhansk), Putin bisa menjustifikasi intervensi militer.

Putin mungkin tidak mengincar seluruh Eropa seperti Hitler, tetapi ia ingin merebut kembali negara-negara bekas Uni Soviet. Ia menganggap pemimpin Eropa sebagai boneka dan menegaskan bahwa misi Rusia akan terus berlanjut, baik melalui diplomasi maupun kekuatan militer.

Analis Dave Troy menyatakan bahwa Putin menganut absolutisme ala Tsar: memperluas wilayah kekuasaan secara kleptokratis. Politisi Republik AS Joe Wilson juga menyebut Putin sedang menghidupkan kembali imperialisme Tsar melalui misi ekspansionisnya.

Eropa Harus Berbenah Diri

Untuk menghentikan impian imperialisme Putin, Eropa harus segera berbenah. Militerisasi kembali secara masif diperlukan untuk menghadapi ancaman Rusia. Kita tidak boleh lagi mentoleransi pencaplokan wilayah secara ilegal tanpa dasar hukum. Ambisi Putin melampaui Ukraina—ia bertekad mencaplok negara-negara bekas Uni Soviet seperti Baltik, Polandia, Moldova, dan lainnya. Jika Eropa tidak bertindak sejak dini, Perang Dunia III bukan lagi ancaman, melainkan kenyataan.

Saatnya bertindak sekarang. Eropa harus bersatu. Rusia selalu siap berperang—Eropa juga harus demikian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Trump, Rusia, dan Cina: Risiko Runtuhnya Tatanan Dunia Liberal

Oleh Dennis Ramadhan Selama Perang Dunia II, rezim Nazi Jerman melakukan invasi brutal ke hampir seluruh negara di Eropa. Tanpa campur tangan Amerika Serikat, besar kemungkinan Eropa akan jatuh sepenuhnya ke tangan Hitler, dan hingga kini benua itu mungkin tidak akan pernah menikmati kebebasan serta demokrasi. Peran Amerika dalam membela sekutu dari kekejaman rezim otoriter pada Perang Dunia II tidak boleh dilupakan oleh negara-negara demokrasi saat ini. Pasca-Perang Dunia II, Amerika terus memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas dan mempertahankan tatanan dunia liberal hingga hari ini. Setelah Perang Dunia II, Amerika berhasil menangkal ancaman nyata dari ideologi komunisme yang dipropagandakan Uni Soviet. Ketika Uni Soviet runtuh pada 1991, Amerika seolah kehilangan “musuh abadi”. Namun, memasuki awal abad ke-21, muncul kekuatan superpower baru yang berpotensi mengancam tatanan demokrasi dunia: Tiongkok (Cina). Pertumbuh...

Ukraina: Menuju "Big Israel" di Eropa Timur

Oleh Dennis Ramadhan Di awal invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022, Rusia mencoba menduduki Kyiv dalam waktu tiga hari. Namun, invasi tersebut gagal total berkat bantuan militer dari sekutu serta pelatihan militer yang telah ditekuni Ukraina beberapa tahun sebelumnya. Saat runtuhnya Uni Soviet, Ukraina menyerahkan sejumlah senjata nuklirnya kepada Rusia dengan kompensasi berupa jaminan keamanan. Penyerahan senjata nuklir dan komitmen jaminan keamanan itu tertuang dalam Memorandum Budapest. Namun, Rusia sebagai penjamin keamanan justru menusuk Ukraina dari belakang: mencaplok Crimea pada 2014 dan menginvasi Ukraina pada 2022. Invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 menunjukkan betapa rapuhnya janji-janji yang tertulis di atas kertas. Meskipun Rusia mencoba menyerang Ukraina pada 2022, setelah lebih dari 3,5 tahun berlalu, Rusia tidak mampu menduduki seluruh wilayah Ukraina, bahkan kota Kyiv sekalipun. Padahal, Rusia digadang-gadang sebag...

Rusia vs Ukraina: Dari Mitos Kekuatan Superpower ke Realitas Paper Tiger

Oleh Dennis Ramadhan Tak terasa sudah lebih dari tiga tahun sejak Putin menginstruksikan pasukannya untuk menduduki seluruh Ukraina dalam waktu tiga hari. Perang yang Putin harapkan bisa selesai dalam waktu 3 hari ternyata belum lekas selesai sampai sekarang. Rusia dulunya dikenal sebagai negara dengan pasukan militer nomor 2 terkuat di dunia setelah Amerika Serikat. Namun, setelah perang Rusia-Ukraina berlangsung, fakta menunjukkan hal yang berbeda. Militer Rusia tetap menjadi nomor 2, tetapi bukan di dunia, melainkan di Ukraina. Ini bukan candaan, tetapi fakta yang ada di lapangan. Sampai saat ini pun, Rusia belum mampu meraih superioritas udara di langit Ukraina. Justru kebanyakan jet tempur Rusia berhasil ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara Ukraina. Hal ini sangat ironis mengingat Ukraina hanyalah negara dengan perlengkapan militer yang sudah tua karena menggunakan teknologi peninggalan Soviet. Anehnya, Rusia tidak mampu...