Oleh Dennis Ramadhan
Baru-baru ini, intelijen Amerika Serikat memperingatkan dunia bahwa Vladimir Putin memiliki ambisi untuk mencaplok seluruh wilayah Ukraina serta sebagian negara Eropa yang pernah menjadi bagian Uni Soviet. Artinya, imperialisme Putin tidak hanya terbatas pada Ukraina, tetapi juga mencakup negara-negara Baltik dan Polandia. Peringatan ini sangat bertolak belakang dengan pernyataan publik Putin, yang berulang kali menyatakan bahwa Rusia tidak ingin berperang dengan Eropa atau mencaplok seluruh Ukraina. Bagi saya dan banyak pengamat politik, temuan intelijen AS ini sama sekali tidak mengejutkan. Penyebab utama invasi Rusia ke Ukraina bukanlah sekadar denazifikasi atau demiliterisasi, melainkan pandangan neo-Soviet Putin yang ingin membangun kembali Uni Soviet di abad ke-21.
Bagi Putin, Ukraina bukan hanya negara bekas jajahan Uni Soviet, tetapi juga bukan negara yang benar-benar merdeka. Ia memandang Ukraina sebagai bagian tak terpisahkan dari Rusia. Pada tahun 2005, Putin menyatakan bahwa runtuhnya Uni Soviet merupakan “bencana geopolitik terbesar abad ini”. Pernyataan itu menunjukkan betapa ia menyesali hilangnya status Uni Soviet sebagai superpower dan memiliki visi neo-Soviet yang kuat. Pandangan politiknya semakin mengungkap ambisi tersembunyi yang tidak pernah ia tunjukkan secara terbuka kepada dunia.
Perang Rusia-Ukraina Tahun 2022
Pada tahun 2022, Rusia melancarkan perang terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II. Invasi ke Ukraina ini mengguncang stabilitas tatanan dunia yang telah dibangun pasca-Perang Dunia II. Putin mengklaim invasi dilakukan untuk mencegah ekspansi militer NATO ke perbatasannya. Namun, niat sebenarnya jauh lebih besar: Ukraina hanyalah batu loncatan awal bagi misi imperialisme Putin. Jika Ukraina jatuh ke tangan Rusia, negara-negara Baltik dan Polandia akan menjadi target berikutnya.
Ambisi Putin melampaui akal sehat kebanyakan orang. Ukraina bukanlah akhir, melainkan bagian dari rencana besar untuk mencaplok sebagian besar Eropa Timur. Ia sangat ingin membangun kembali Uni Soviet dan mengembalikan Rusia ke masa kejayaannya. Secara historis dan kultural, Putin mengklaim bahwa Ukraina adalah bagian dari Rusia, bahkan menyebut Rusia dan Ukraina sebagai “one people”. Klaim ini sama sekali tidak berdasar, karena di abad ke-21, kedaulatan wilayah negara harus dihormati. Menjustifikasi pencaplokan dengan kedekatan budaya jelas melanggar hukum internasional.
Putin awalnya berharap bisa menguasai seluruh Ukraina dalam tiga hari. Nyatanya, setelah lebih dari tiga tahun perang berlangsung, Rusia masih gagal menduduki Ukraina sepenuhnya. Ukraina adalah gerbang utama menuju target-target lain dalam misi imperialisme Putin.
Memahami Cara Berpikir Putin
Untuk memahami pandangan Putin terhadap dunia, kita harus kembali ke masa keberadaan Uni Soviet. Pada tahun 1991, stagnasi ekonomi yang berkepanjangan, pergolakan nasionalisme di berbagai wilayah, serta reformasi Gorbachev menyebabkan bubarnya negara komunis tersebut. Bagi banyak masyarakat Rusia, runtuhnya Uni Soviet adalah tragedi besar karena Rusia kehilangan status superpower, wilayah luas, serta pengaruh global. Putin, yang saat itu menjabat sebagai agen KGB, juga turut menyesali peristiwa itu.
Ketika berkuasa pada tahun 1999, Putin bertekad mengembalikan kejayaan Rusia. Di awal kepemimpinannya, ia membangun pemerintahan yang sangat terpusat di bawah kendalinya, mengekang oligarki, dan memulihkan ekonomi melalui ekspor energi.
Putin berulang kali menyatakan bahwa Ukraina adalah buatan Lenin dan Bolshevik, serta menolak statusnya sebagai negara berdaulat. Dalam esainya tahun 2021, ia menegaskan bahwa Rusia dan Ukraina adalah “one people”. Retorika ini semakin kuat menjelang invasi 2022, di mana Putin mengklaim operasinya bertujuan untuk denazifikasi dan demiliterisasi—klaim yang sama sekali tidak berdasar.
Putin juga memandang Eropa sebagai perpanjangan imperialisme Amerika. Dalam Konferensi Keamanan Munich tahun 2007, ia mengecam ekspansi NATO ke Eropa Timur sebagai pelanggaran terhadap tatanan dunia pasca-Perang Dunia II.
Pandangan Neo-Soviet Putin
Sepanjang tahun 2025, pernyataan Putin semakin meyakinkan banyak pihak bahwa ambisinya jauh melampaui Ukraina. Dalam konferensi pers pada 19 Desember lalu, ia menegaskan bahwa tujuan operasi militer di Ukraina belum berubah: menghilangkan akar masalah, yaitu ekspansi NATO ke Eropa Timur.
Pada awal Juni, penasihat Putin, Anton Kobyakov, bahkan menyatakan bahwa Uni Soviet masih eksis secara legal dan konflik dengan Ukraina adalah urusan internal Rusia. Meski bukan pernyataan langsung dari Putin, pandangan ini mencerminkan ideologi yang mendasari pemerintahannya. Pada November, Menteri Pertahanan Belanda Ruben Brekelmans menyatakan bahwa Putin ingin membangun kembali Uni Soviet. Kanselir Jerman Friedrich Merz mengatakan hal serupa: Putin berniat mencaplok negara-negara bekas jajahan Soviet untuk mengembalikan Uni Soviet.
Perang di Ukraina sebagai Uji Ambisi Imperialisme
Perang di Ukraina menjadi ujian nyata bagi aspirasi imperialisme Putin. Rusia kini menguasai sekitar 20% wilayah Ukraina. Putin memanfaatkan pasukan Korea Utara dan drone Iran untuk memperpanjang konflik demi ambisi pribadinya.
Para ahli menilai tindakan Putin menunjukkan keinginan untuk menduduki seluruh Ukraina dengan alasan-alasan yang tidak berdasar. Selain itu, Rusia melancarkan perang hybrid terhadap Eropa melalui serangan siber, disinformasi, dan sabotase infrastruktur. Putin juga membentuk aliansi dengan negara-negara paria seperti China, Iran, dan Korea Utara (poros CRINK) untuk menantang dominasi Barat.
Negara Baltik dalam Ancaman
Jika Putin berhasil menguasai Ukraina, Eropa akan menjadi target berikutnya. Negara-negara Baltik—Lithuania, Latvia, dan Estonia—sangat rentan karena memiliki minoritas Rusia yang cukup besar. Dengan dalih “melindungi” minoritas Rusia (seperti yang digunakan di Donbas dan Luhansk), Putin bisa menjustifikasi intervensi militer.
Putin mungkin tidak mengincar seluruh Eropa seperti Hitler, tetapi ia ingin merebut kembali negara-negara bekas Uni Soviet. Ia menganggap pemimpin Eropa sebagai boneka dan menegaskan bahwa misi Rusia akan terus berlanjut, baik melalui diplomasi maupun kekuatan militer.
Analis Dave Troy menyatakan bahwa Putin menganut absolutisme ala Tsar: memperluas wilayah kekuasaan secara kleptokratis. Politisi Republik AS Joe Wilson juga menyebut Putin sedang menghidupkan kembali imperialisme Tsar melalui misi ekspansionisnya.
Eropa Harus Berbenah Diri
Untuk menghentikan impian imperialisme Putin, Eropa harus segera berbenah. Militerisasi kembali secara masif diperlukan untuk menghadapi ancaman Rusia. Kita tidak boleh lagi mentoleransi pencaplokan wilayah secara ilegal tanpa dasar hukum. Ambisi Putin melampaui Ukraina—ia bertekad mencaplok negara-negara bekas Uni Soviet seperti Baltik, Polandia, Moldova, dan lainnya. Jika Eropa tidak bertindak sejak dini, Perang Dunia III bukan lagi ancaman, melainkan kenyataan.
Saatnya bertindak sekarang. Eropa harus bersatu. Rusia selalu siap berperang—Eropa juga harus demikian.

Komentar
Posting Komentar