Oleh Dennis Ramadhan
Selama lebih dari tiga tahun Perang Rusia-Ukraina berlangsung, Rusia sejauh ini masih gagal menduduki Ukraina sepenuhnya. Jutaan orang telah menjadi korban dalam perang yang tak berkesudahan ini. Sebagai pihak agresor, Rusia sudah seharusnya menghentikan peperangan ini. Meskipun Presiden Trump telah berulang kali berupaya memediasi kedua belah pihak, hingga kini belum berhasil.
Belakangan ini, berita mengejutkan datang dari Jerman. Anggota Bundestag sekaligus pensiunan Kolonel NATO, Roderich Kiesewetter, menyatakan bahwa Rusia mengerahkan hingga 360.000 personel militer ke Belarus, yang berbatasan langsung dengan wilayah NATO. Hal ini memicu kekhawatiran sejumlah pihak mengenai intensi Rusia, karena dikhawatirkan akan menyerang negara-negara NATO. Meskipun kapabilitas militer Rusia telah terdegradasi signifikan akibat perang di Ukraina, Rusia masih memiliki aset militer yang cukup besar untuk melakukan serangan terbatas terhadap NATO.
Negara-negara Baltik, dengan posisi geopolitiknya yang berbatasan langsung dengan Rusia, memang rentan. Banyak pengamat militer menilai bahwa lokasi tersebut meningkatkan potensi ancaman. Meskipun belum ada tanda-tanda invasi Rusia terhadap negara-negara Baltik, beberapa indikator menunjukkan betapa berbahayanya posisi mereka terhadap potensi invasi atau ancaman dari Rusia.
Negara-negara Baltik Dalam Ancaman
Rusia memang belum menunjukkan indikator akhir untuk menyerang negara-negara Baltik, namun potensi invasi di masa depan tidak dapat diabaikan. Meskipun militer NATO secara konvensional jauh lebih superior dibandingkan Rusia, dalam beberapa aspek Rusia memiliki keunggulan. Negara-negara Baltik hanya memiliki personel militer ribuan orang, dibandingkan Rusia yang memiliki sekitar satu juta. Posisi wilayah mereka yang dipisahkan oleh Suwałki Gap berisiko dieksploitasi Rusia. Pasukan Rusia di Kaliningrad dan Belarus juga berpotensi mengancam negara-negara Baltik secara kuat.
Misi Imperialisme Rusia dan Sejarah Masa Lalu
Rusia memandang negara-negara Baltik sebagai nostalgia sejarah yang tak terlupakan, dengan kedekatan ideologi dan historis. Estonia, Latvia, dan Lithuania merdeka sebelum Perang Dunia II, tetapi diduduki Uni Soviet sejak Perjanjian Molotov-Ribbentrop. Sejak 1991 pasca-runtuhnya Uni Soviet, Moskow tidak pernah benar-benar mengakui kemerdekaan mereka, malah sering mengeluarkan pernyataan negatif. Rusia kerap menyebarkan narasi bahwa negara-negara Baltik melakukan "Russophobia" dan diskriminasi terhadap minoritas Rusia di sana. Doktrin militer serta kebijakan luar negeri Rusia juga menyatakan bahwa NATO merupakan ancaman nyata bagi Rusia, terutama karena keberadaan personel NATO di negara-negara Baltik. Analis geopolitik Mark Galeotti menyatakan bahwa kemerdekaan negara-negara Baltik serta bergabungnya mereka ke NATO dan Uni Eropa merupakan ancaman bagi keamanan Rusia.
Alasan ideologi dan kedekatan sejarah sering digunakan Rusia untuk membenarkan invasi ke negara lain. Tidak tertutup kemungkinan Rusia akan melakukan petualangan baru ke negara-negara Baltik dengan dalih melindungi minoritas Rusia atau alasan sejarah dan ideologi.
Posisi Rusia di Suwałki Gap dan Kaliningrad
Secara geografis, posisi negara-negara Baltik sangat menguntungkan bagi Rusia. Suwałki Gap yang memisahkan negara-negara Baltik dari Polandia mudah dieksploitasi. Personel militer Rusia di Belarus dan Kaliningrad berpotensi menduduki Suwałki Gap serta mengisolasi negara-negara Baltik dari NATO. Rusia telah memiliterisasi Kaliningrad dengan mengerahkan rudal Iskander, sistem rudal anti-kapal, rudal berhulu ledak nuklir, serta ribuan personel militer.
Dalam situasi perang, pasukan Rusia dan Belarus dapat melakukan manuver untuk menduduki Suwałki Gap dan mengisolasi negara-negara Baltik dari Polandia serta NATO. Menginvasi Baltik melalui pendudukan Suwałki Gap secara strategis lebih mudah daripada menginvasi Polandia.
Warga Minoritas Rusia di Negara Baltik
Sekitar 25% penduduk Estonia dan Latvia adalah minoritas Rusia. Di Lithuania, jumlahnya lebih kecil. Di Latvia dan Estonia, pemerintah mewajibkan penguasaan bahasa nasional, yang membuat minoritas Rusia merasa tidak diakui sepenuhnya sebagai warga negara. Rusia memandang regulasi ini sebagai alasan potensial untuk intervensi militer, mirip dengan invasi Donbas di Ukraina pada 2014.
Serangan hybrid Rusia terhadap negara-negara Baltik juga semakin intensif: GPS jamming dari Kaliningrad berdampak luas pada penerbangan sipil, disusul infiltrasi drone, disinformasi, serta upaya sabotase yang terus meningkat. Aksi perang hybrid ini membuat banyak pengamat khawatir akan potensi invasi Rusia ke Baltik di masa depan.
Pengerahan Kekuatan Militer Rusia dan Peringatan Intelijen
Intelijen Jerman (BND) memperingatkan bahaya invasi Rusia ke Eropa pada akhir dekade 2020-an. Intelijen Denmark juga memberikan peringatan serupa mengenai potensi invasi pada sekitar 2027.
Pada 2025 ini, negara-negara Baltik mulai membangun fortifikasi militer seperti penghalang anti-tank, bunker, dan ranjau darat untuk mencegah invasi Rusia. Mereka juga membangun garis pertahanan sepanjang perbatasan dengan Rusia.
Kekuatan udara dan laut Rusia tetap menjadi ancaman nyata bagi negara-negara Baltik. Meskipun secara kuantitas dan kualitas telah mengalami degradasi, angkatan laut serta udara Rusia masih cukup kuat.
Richard Shirreff, mantan panglima NATO, memprediksi bahwa militer Rusia dapat menduduki negara-negara Baltik dalam waktu singkat sebelum pasukan NATO tiba untuk membantu.
Singkatnya, potensi invasi militer Rusia terhadap negara-negara Baltik tidak dapat dikesampingkan. Lokasi strategis mereka di dekat Suwałki Gap dan Kaliningrad membuat ancaman semakin nyata. Dari segi kekuatan militer konvensional, negara-negara Baltik juga kalah jauh dari Rusia. Rusia berpotensi menginvasi dengan menduduki Suwałki Gap dan mengisolasi Baltik dari NATO.
Ukraina bukan akhir dari ambisi imperialisme Putin. Negara-negara Baltik berpotensi menjadi target berikutnya. NATO tidak lagi punya banyak waktu; Rusia telah mengerahkan ratusan ribu personel dan melakukan militerisasi masif di perbatasan dengan NATO. Jika NATO tidak bertindak, negara-negara Baltik berpotensi menjadi "the next Ukraine".

Komentar
Posting Komentar