Langsung ke konten utama

Bukan Wilayah, Bukan Kejayaan: Alasan Sebenarnya Rusia Terus Berperang di Ukraina

Oleh Dennis Ramadhan Perang antara Rusia dan Ukraina telah berlangsung selama lebih dari tiga tahun. Suara tank masih mengaum di jalanan, suara artileri dan tembakan senjata masih sangat terdengar jelas. Masyarakat masih dihantui oleh perang yang tak berkesudahan ini. Jutaan personel militer dan warga sipil telah menjadi korban akibat tragedi kemanusiaan terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II. Ukraina secara konsisten menunjukkan keinginannya untuk melakukan gencatan senjata bahkan berdamai dengan Rusia. Namun, pihak Rusia berulang kali mencoba memperpanjang perang dan selalu mengelak untuk melakukan gencatan senjata. Padahal, Presiden Zelenskyy dan Trump sepakat bahwa perang yang tak berkesudahan ini harus segera dihentikan. Sejak tahun 2022, kedua belah pihak telah berulang kali melakukan proses negosiasi damai. Namun, hingga saat ini upaya negosiasi dan mediasi yang dilakukan masih belum menemui jalan terang. Ukraina sebagai p...

Dari 2016 Hingga Kini : Putin Berhasil Memanipulasi Trump Berulang Kali

Oleh Dennis Ramadhan

Di suatu masa, seorang pemimpin negara paling powerful di dunia saat itu berkata: “Vladimir Putin merupakan Presiden Rusia yang sangat cerdas bahkan jenius,” ujar pemimpin tersebut. Bagi orang yang sudah familiar dengan pujian-pujian terhadap pemimpin otoriter, tentu sudah bisa menebak siapa pemimpin di dunia saat ini yang senang memuji sistem kediktatoran: Dialah Donald Trump!

Tidak terhitung entah sudah berapa kali Trump memuji para pemimpin otoriter sejak menjabat pertama kali sebagai Presiden Amerika Serikat. Entah apa yang dipikirkan oleh Trump sehingga ia senang menyanjung para pemimpin tersebut. Padahal kediktatoran merupakan sistem yang sangat bertolak belakang dengan demokrasi. Sebagai pemimpin negara demokrasi terbesar, tidak layak bagi Trump melakukan hal tersebut sebab itu sama saja artinya Amerika Serikat tunduk pada sistem kediktatoran dan mencederai sistem demokrasi itu sendiri.

Salah satu pemimpin yang sangat “dicintai” dan disanjung oleh Trump adalah Vladimir Putin. Hubungan “spesial” antara kedua tokoh ini bermula ketika dokumen Kremlin yang bocor menerangkan bahwa Putin menginstruksikan operasi rahasia untuk mendukung Trump sebagai kandidat presiden di tahun 2016. Dokumen itu juga menjelaskan bahwa Trump merupakan orang yang impulsif, narsis, dan sangat mudah dimanipulasi. Tujuan Rusia mengintervensi pemilu Amerika di tahun 2016 selain untuk mendukung Trump, juga untuk memecah belah opini publik serta melemahkan aliansi NATO.

Lucunya, meski sudah banyak dokumen dan bukti publik yang memperlihatkan bagaimana Trump selalu mudah dimanipulasi dan dijadikan “agen” oleh Rusia, Trump selalu menolak tuduhan tersebut bahkan justru membela Rusia. Tindakan Trump ini menunjukkan bagaimana ia mudah dimanipulasi oleh Putin bahkan selalu berpihak ke Rusia dibandingkan ke sekutu Amerika itu sendiri.

Mantan penasihat keamanan nasional Amerika, H.R. McMaster, mengklaim dalam bukunya bahwa Putin memanfaatkan sifat ego dan insecure Trump untuk memanipulasinya. Putin bahkan memuji Trump dengan tujuan untuk menipu dan membodohi Trump, di saat bersamaan Putin melancarkan destabilisasi ke negara-negara lain. Mantan agen CIA mendeskripsikan Trump sebagai “useful idiot” bagi Rusia. Sebagai mantan agen KGB, Putin sangat pandai memainkan perannya untuk memanipulasi orang lain dengan tujuan melancarkan agendanya. Putin sejauh ini sukses memanipulasi Trump: Trump memuji Putin sebagai orang jenius atas invasinya ke Ukraina.

Tipu Muslihat Putin dalam Negosiasi Perjanjian Damai Rusia dan Ukraina

Sebelum dilantik menjadi presiden Amerika Serikat periode ke-2 di tahun 2025, Trump berjanji akan mengakhiri konflik antara Rusia dan Ukraina dalam 24 jam. Namun beberapa bulan berjalan hingga saat ini, janji Trump hanyalah tinggal janji. Kedua belah pihak masih berperang dan belum ada kejelasan gencatan senjata akan dilaksanakan. Putin dalam negosiasi perjanjian damai ini kembali memainkan kartu asnya: memuji dan memanipulasi Trump.

Di awal 2025, Trump mengirimkan utusannya Jared Kushner dan Steve Witkoff untuk mengunjungi Moskow. Kunjungan ini dilakukan sebagai bentuk basa-basi Amerika untuk membujuk Rusia agar mau menghentikan peperangan. Rusia melihat upaya bujukan tersebut sebagai bentuk kelemahan; hasilnya militer Rusia menyerang Kharkiv dan Sumy secara intensif sehingga melumpuhkan infrastruktur di kedua kota tersebut. Trump lagi-lagi tak ambil pusing dan mengabaikan tindakan yang dilakukan Rusia.

Selagi melancarkan aksi serangan ke Ukraina, Putin memuji Trump sebagai satu-satunya presiden yang bisa menghentikan perang dan berkomitmen ingin damai dengan Ukraina. Trump tersipu dan terpedaya oleh tipu muslihat yang dilakukan Putin. Kedua pemimpin kembali bertemu di Alaska pada Agustus 2025 lalu. Lagi-lagi Putin memainkan trik lamanya: mengeluarkan statement seolah-olah ingin berdamai dan memuji Trump, tetapi di sisi lain Putin melakukan serangan yang lebih brutal terhadap Ukraina. Amerika dan Trump lagi-lagi dibodohi oleh trik dan siasat Putin. Motivasi Rusia pada pertemuan dengan Trump di Agustus itu diduga ingin menghindari sanksi yang telah berbulan-bulan ditunda oleh Trump. Putin berhasil: Rusia tidak jadi mendapatkan sanksi dan Rusia dapat terus melancarkan serangan militer ke Ukraina.

Skenario yang sama kembali terjadi di bulan Desember ini. Trump menawarkan konsesi wilayah kepada Rusia dengan harapan Rusia mau melakukan gencatan senjata. Isi proposal perdamaian yang berisi 28 poin itu sangat menguntungkan Rusia dan merugikan Ukraina sebagai korban agresi. Tetapi lagi-lagi Putin menolak proposal tersebut, dan terus melancarkan agresi militernya sembari mengeluarkan statement bahwa Rusia ingin damai.

Sebagai mantan agen KGB, tidak diragukan lagi bahwa Putin memiliki kemampuan memanipulasi orang lain demi kepentingan pribadinya. Mantan diplomat Lituania, Vygaudas Ušackas, mendeskripsikan Putin sebagai orang yang mampu memanipulasi orang lain dengan mudah. Sudah beberapa bukti muncul dan di setiap kesempatan Putin selalu memanipulasi Trump, tetapi Trump selalu menolak tuduhan manipulasi tersebut. Trump bahkan percaya diri bahwa dirinya tidak dibodohi oleh Putin.

Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di balik layar antara keduanya. Donald Trump kita tahu ialah seorang pengusaha yang sangat cerdik. Selama menjabat sebagai presiden, kebijakan politiknya senantiasa bersifat transaksional. Trump mungkin terlihat bodoh dan seolah mudah dimanipulasi oleh Putin. Tetapi kita tidak mengetahui apakah di antara mereka ada bisnis yang disembunyikan. Trump juga senang dipuji dan tentu saja ia lebih mengutamakan kepentingan bisnisnya di atas segalanya. Bisa jadi Trump dan Putin memiliki urusan bisnis yang tak akan pernah kita ketahui. Trump bukan orang yang bodoh, tetapi dia adalah tipe politisi transaksional yang mengutamakan uang dan uang.

Dunia terus menunggu dan berharap kedamaian bisa kembali hadir di Eropa. Kita tidak butuh perang di Eropa atau di manapun. Anak-anak muda kita jangan sampai dikirimkan ke medan pertempuran hanya demi mempertahankan ego dari para boomers itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Trump, Rusia, dan Cina: Risiko Runtuhnya Tatanan Dunia Liberal

Oleh Dennis Ramadhan Selama Perang Dunia II, rezim Nazi Jerman melakukan invasi brutal ke hampir seluruh negara di Eropa. Tanpa campur tangan Amerika Serikat, besar kemungkinan Eropa akan jatuh sepenuhnya ke tangan Hitler, dan hingga kini benua itu mungkin tidak akan pernah menikmati kebebasan serta demokrasi. Peran Amerika dalam membela sekutu dari kekejaman rezim otoriter pada Perang Dunia II tidak boleh dilupakan oleh negara-negara demokrasi saat ini. Pasca-Perang Dunia II, Amerika terus memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas dan mempertahankan tatanan dunia liberal hingga hari ini. Setelah Perang Dunia II, Amerika berhasil menangkal ancaman nyata dari ideologi komunisme yang dipropagandakan Uni Soviet. Ketika Uni Soviet runtuh pada 1991, Amerika seolah kehilangan “musuh abadi”. Namun, memasuki awal abad ke-21, muncul kekuatan superpower baru yang berpotensi mengancam tatanan demokrasi dunia: Tiongkok (Cina). Pertumbuh...

Ukraina: Menuju "Big Israel" di Eropa Timur

Oleh Dennis Ramadhan Di awal invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022, Rusia mencoba menduduki Kyiv dalam waktu tiga hari. Namun, invasi tersebut gagal total berkat bantuan militer dari sekutu serta pelatihan militer yang telah ditekuni Ukraina beberapa tahun sebelumnya. Saat runtuhnya Uni Soviet, Ukraina menyerahkan sejumlah senjata nuklirnya kepada Rusia dengan kompensasi berupa jaminan keamanan. Penyerahan senjata nuklir dan komitmen jaminan keamanan itu tertuang dalam Memorandum Budapest. Namun, Rusia sebagai penjamin keamanan justru menusuk Ukraina dari belakang: mencaplok Crimea pada 2014 dan menginvasi Ukraina pada 2022. Invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 menunjukkan betapa rapuhnya janji-janji yang tertulis di atas kertas. Meskipun Rusia mencoba menyerang Ukraina pada 2022, setelah lebih dari 3,5 tahun berlalu, Rusia tidak mampu menduduki seluruh wilayah Ukraina, bahkan kota Kyiv sekalipun. Padahal, Rusia digadang-gadang sebag...

Rusia vs Ukraina: Ketika Negara Tanpa Angkatan Laut Mengalahkan Armada Laut Terkuat Ketiga Dunia

Oleh Dennis Ramadhan Dalam peperangan, peranan angkatan laut sangatlah krusial. Tanpa adanya angkatan laut, perang tidak mungkin akan bisa dimenangkan dengan mudah. Sejarah membuktikan bahwa negara yang memiliki pasukan matra laut yang kuat mampu menguasai dunia. Inggris pada era abad ke-19–20 memiliki angkatan laut yang sangat kuat hingga mampu menguasai 25% wilayah dunia termasuk koloni-koloninya di belahan bumi selatan. Jerman pada Perang Dunia I mengalami kesulitan menghadapi Sekutu berkat blokade militer terutama di laut yang dilakukan oleh Inggris. Amerika juga bukan pengecualian; Amerika membangun angkatan lautnya menjadi yang terkuat di bumi saat ini. Amerika memiliki 11 kapal induk dan ratusan kapal perang, menunjukkan ambisi dominasi matra laut yang kuat. Tidak cukup dengan Amerika, Cina yang merupakan rival abadi Amerika saat ini tidak mau ketinggalan. Saat ini Cina membangun kekuatan matra lautnya dengan serius. Di...