Langsung ke konten utama

Bukan Wilayah, Bukan Kejayaan: Alasan Sebenarnya Rusia Terus Berperang di Ukraina

Oleh Dennis Ramadhan Perang antara Rusia dan Ukraina telah berlangsung selama lebih dari tiga tahun. Suara tank masih mengaum di jalanan, suara artileri dan tembakan senjata masih sangat terdengar jelas. Masyarakat masih dihantui oleh perang yang tak berkesudahan ini. Jutaan personel militer dan warga sipil telah menjadi korban akibat tragedi kemanusiaan terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II. Ukraina secara konsisten menunjukkan keinginannya untuk melakukan gencatan senjata bahkan berdamai dengan Rusia. Namun, pihak Rusia berulang kali mencoba memperpanjang perang dan selalu mengelak untuk melakukan gencatan senjata. Padahal, Presiden Zelenskyy dan Trump sepakat bahwa perang yang tak berkesudahan ini harus segera dihentikan. Sejak tahun 2022, kedua belah pihak telah berulang kali melakukan proses negosiasi damai. Namun, hingga saat ini upaya negosiasi dan mediasi yang dilakukan masih belum menemui jalan terang. Ukraina sebagai p...

Eropa Tidak Lagi Bisa Mengandalkan Amerika

Oleh Dennis Ramadhan

Delapan puluh tahun yang lalu, Perang Dunia II berakhir dengan kemenangan Sekutu. Kemenangan ini tak lepas dari kontribusi Amerika melalui Lend-Lease Act yang mengirimkan pasokan penting ke negara-negara sekutu, terutama Inggris dan Uni Soviet. Amerika pada masa itu menjadi pahlawan penting bagi Sekutu sehingga berhasil mengalahkan Blok Poros. Tanpa Amerika, suplai persenjataan di Eropa pasti terhambat karena Jerman terus-menerus membom pabrik-pabrik produksi senjata. Sementara itu, wilayah Amerika yang jauh dari Eropa memungkinkannya memproduksi senjata tanpa khawatir dibom Jerman.

Pada masa Perang Dingin, Amerika juga berperan besar mempertahankan stabilitas demokrasi di negara-negara Eropa serta menjauhkan pengaruh komunisme yang sangat kuat saat itu. Dalam bidang ekonomi, Amerika membantu merekonstruksi Eropa melalui Marshall Plan tahun 1948. Ketika menghadapi perang proksi dengan Uni Soviet, Amerika mengirimkan bantuan militer ke negara-negara garis depan anti-komunis seperti Korea Selatan, Vietnam Selatan, Taiwan, dan Afghanistan. Semua itu dilakukan atas nama mempertahankan demokrasi dan mencegah penyebaran komunisme di dunia.

Kini semua itu tinggal cerita. Setelah Uni Soviet bubar pada 1991, Amerika merasa tidak lagi memiliki musuh sejati. Kebijakan luar negeri Amerika hingga kini cenderung isolasionis dan proteksionis. Hal ini terbukti melalui kebijakan “America First” yang diterapkan Presiden Donald Trump. Lewat kebijakan itu, Trump bahkan mendeklarasikan perang dagang ke seluruh dunia, termasuk sekutu-sekutunya di Eropa. Alih-alih mengirimkan bantuan ekonomi, Trump justru memberlakukan tarif tinggi terhadap barang-barang impor dari Eropa.

Amerika juga menarik pasukannya secara sepihak dari Afghanistan, memaksa pemimpin dan pasukan demokratis Afghanistan berjuang sendirian melawan Taliban yang jauh lebih kuat. Akibat ditinggalkan Amerika, kekuatan pro-demokrasi kalah, dan Taliban berhasil menguasai kembali negara itu. Pada perang Rusia-Ukraina, Amerika kembali menunjukkan ketidaksiapannya mendukung sekutu. Ukraina kini justru dipaksa menyerahkan wilayahnya kepada Rusia. Amerika bahkan mengancam akan menghentikan bantuan militer dan ekonomi jika Ukraina tidak mau menandatangani perjanjian damai yang jelas-jelas sangat menguntungkan Rusia.

Jika perjanjian itu benar-benar ditandatangani, Eropa akan berada dalam situasi sulit. Perjanjian damai tersebut akan memberi sinyal hijau bagi Rusia untuk meningkatkan agresi militernya ke negara-negara Eropa. Ironisnya, Amerika justru berencana mengurangi jumlah pasukannya di Eropa di saat benua ini sedang berada dalam fase kritis: Rusia melancarkan perang hybrid melalui sabotase, infiltrasi drone, dan serangan terhadap fasilitas militer serta publik di berbagai negara Eropa.

Melihat kebijakan luar negeri Amerika yang semakin isolasionis, sudah sewajarnya Eropa mulai memikirkan cara menjaga keamanan dan stabilitasnya sendiri tanpa bergantung pada Amerika. Beberapa langkah konkret yang harus segera dilakukan adalah:

1. Meningkatkan anggaran pertahanan secara signifikan dan mendukung produksi persenjataan militer secara mandiri. Saat ini Eropa masih sangat bergantung pada impor senjata dari Amerika. Dalam situasi krisis, Amerika bisa saja menarik diri karena “America First” selalu mengutamakan kepentingan nasionalnya sendiri.

2. Mengintegrasikan kekuatan militer secara penuh di antara negara-negara anggota Uni Eropa dan NATO yang berbasis di Eropa, sehingga tercipta strategi serta doktrin militer yang jelas dan tidak lagi bergantung pada komando Amerika.

3. Mengembangkan kapabilitas militer mandiri, terutama di bidang intelijen, pengawasan, dan pengintaian (ISR), karena Amerika tidak selamanya mau atau mampu membantu ketika perang tidak menguntungkan kepentingannya.

4. Memberikan bantuan masif kepada Ukraina, baik senjata maupun ekonomi, karena Ukraina adalah garis depan pertahanan Eropa. Mendukung industri pertahanan Ukraina secara besar-besaran adalah cara paling efektif mencegah perang langsung antara Rusia dan NATO.

5. Mengembangkan teknologi strategis sendiri (AI, semikonduktor, satelit, siber) tanpa terus-menerus bergantung pada perusahaan Amerika.

6. Menyadari bahwa tidak ada jaminan Amerika akan menjalankan Artikel 5 NATO dengan sungguh-sungguh. Pengurangan pasukan AS di Eropa dan pergeseran fokus ke Asia-Pasifik telah melemahkan kredibilitas komitmen Amerika.

Eropa dan Amerika tetap bisa bersahabat dan bahkan bersekutu, tetapi Eropa harus berpikir pragmatis: Amerika bukan lagi sekutu yang bisa diandalkan sepenuhnya. Sejarah membuktikan Amerika hanya terlibat perang ketika kepentingannya langsung terancam—Perang Dunia I karena kapal dagangnya ditenggelamkan Jerman, Perang Dunia II karena Pearl Harbor diserang Jepang. Bayangkan jika besok pagi Rusia menginvasi negara Baltik atau Polandia tanpa menyentuh satu pun kepentingan Amerika secara langsung—apakah Amerika masih akan datang membantu?

Pada akhirnya, stabilitas dan keamanan Eropa berada di tangan Eropa sendiri. Waktu terus berjalan cepat. Beruntungnya, angin lembut masih berhembus damai di Warsawa dan Vilnius pada malam hari yang mulai terasa semakin suram.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Trump, Rusia, dan Cina: Risiko Runtuhnya Tatanan Dunia Liberal

Oleh Dennis Ramadhan Selama Perang Dunia II, rezim Nazi Jerman melakukan invasi brutal ke hampir seluruh negara di Eropa. Tanpa campur tangan Amerika Serikat, besar kemungkinan Eropa akan jatuh sepenuhnya ke tangan Hitler, dan hingga kini benua itu mungkin tidak akan pernah menikmati kebebasan serta demokrasi. Peran Amerika dalam membela sekutu dari kekejaman rezim otoriter pada Perang Dunia II tidak boleh dilupakan oleh negara-negara demokrasi saat ini. Pasca-Perang Dunia II, Amerika terus memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas dan mempertahankan tatanan dunia liberal hingga hari ini. Setelah Perang Dunia II, Amerika berhasil menangkal ancaman nyata dari ideologi komunisme yang dipropagandakan Uni Soviet. Ketika Uni Soviet runtuh pada 1991, Amerika seolah kehilangan “musuh abadi”. Namun, memasuki awal abad ke-21, muncul kekuatan superpower baru yang berpotensi mengancam tatanan demokrasi dunia: Tiongkok (Cina). Pertumbuh...

Ukraina: Menuju "Big Israel" di Eropa Timur

Oleh Dennis Ramadhan Di awal invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022, Rusia mencoba menduduki Kyiv dalam waktu tiga hari. Namun, invasi tersebut gagal total berkat bantuan militer dari sekutu serta pelatihan militer yang telah ditekuni Ukraina beberapa tahun sebelumnya. Saat runtuhnya Uni Soviet, Ukraina menyerahkan sejumlah senjata nuklirnya kepada Rusia dengan kompensasi berupa jaminan keamanan. Penyerahan senjata nuklir dan komitmen jaminan keamanan itu tertuang dalam Memorandum Budapest. Namun, Rusia sebagai penjamin keamanan justru menusuk Ukraina dari belakang: mencaplok Crimea pada 2014 dan menginvasi Ukraina pada 2022. Invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 menunjukkan betapa rapuhnya janji-janji yang tertulis di atas kertas. Meskipun Rusia mencoba menyerang Ukraina pada 2022, setelah lebih dari 3,5 tahun berlalu, Rusia tidak mampu menduduki seluruh wilayah Ukraina, bahkan kota Kyiv sekalipun. Padahal, Rusia digadang-gadang sebag...

Rusia vs Ukraina: Ketika Negara Tanpa Angkatan Laut Mengalahkan Armada Laut Terkuat Ketiga Dunia

Oleh Dennis Ramadhan Dalam peperangan, peranan angkatan laut sangatlah krusial. Tanpa adanya angkatan laut, perang tidak mungkin akan bisa dimenangkan dengan mudah. Sejarah membuktikan bahwa negara yang memiliki pasukan matra laut yang kuat mampu menguasai dunia. Inggris pada era abad ke-19–20 memiliki angkatan laut yang sangat kuat hingga mampu menguasai 25% wilayah dunia termasuk koloni-koloninya di belahan bumi selatan. Jerman pada Perang Dunia I mengalami kesulitan menghadapi Sekutu berkat blokade militer terutama di laut yang dilakukan oleh Inggris. Amerika juga bukan pengecualian; Amerika membangun angkatan lautnya menjadi yang terkuat di bumi saat ini. Amerika memiliki 11 kapal induk dan ratusan kapal perang, menunjukkan ambisi dominasi matra laut yang kuat. Tidak cukup dengan Amerika, Cina yang merupakan rival abadi Amerika saat ini tidak mau ketinggalan. Saat ini Cina membangun kekuatan matra lautnya dengan serius. Di...