Langsung ke konten utama

Bukan Wilayah, Bukan Kejayaan: Alasan Sebenarnya Rusia Terus Berperang di Ukraina

Oleh Dennis Ramadhan Perang antara Rusia dan Ukraina telah berlangsung selama lebih dari tiga tahun. Suara tank masih mengaum di jalanan, suara artileri dan tembakan senjata masih sangat terdengar jelas. Masyarakat masih dihantui oleh perang yang tak berkesudahan ini. Jutaan personel militer dan warga sipil telah menjadi korban akibat tragedi kemanusiaan terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II. Ukraina secara konsisten menunjukkan keinginannya untuk melakukan gencatan senjata bahkan berdamai dengan Rusia. Namun, pihak Rusia berulang kali mencoba memperpanjang perang dan selalu mengelak untuk melakukan gencatan senjata. Padahal, Presiden Zelenskyy dan Trump sepakat bahwa perang yang tak berkesudahan ini harus segera dihentikan. Sejak tahun 2022, kedua belah pihak telah berulang kali melakukan proses negosiasi damai. Namun, hingga saat ini upaya negosiasi dan mediasi yang dilakukan masih belum menemui jalan terang. Ukraina sebagai p...

Ketika Amerika Lepas Tangan, Rusia Mengasah Pedang

Oleh Dennis Ramadhan

Baru-baru ini Pentagon mengeluarkan pernyataan yang benar-benar mengejutkan: mulai tahun 2027, Eropa harus bertanggung jawab penuh atas keamanan kawasannya sendiri. Eropa tidak boleh lagi bergantung sepenuhnya kepada Amerika, terutama dalam kapabilitas militer konvensional seperti intelijen, sistem pertahanan udara, dan proyeksi kekuatan. Jika tuntutan ini tidak dipenuhi, Amerika Serikat akan menarik diri dari sebagian sistem koordinasi pertahanan NATO. Pentagon bahkan bersikeras memaksa setiap anggota NATO di Eropa menaikkan anggaran pertahanan menjadi minimal 5% dari GDP.

Kebijakan “pria oren” ini kembali mengarah pada isolasionisme — dan itu sangat berbahaya. Pada 2027, ancaman bukan hanya datang dari Rusia yang semakin agresif, tetapi juga dari China yang semakin dekat dengan rencana invasi Taiwan. Pernyataan Pentagon ini tidak hanya membuat Eropa gelisah, tetapi juga seluruh dunia. Amerika, yang selama ini menjadi pemimpin tatanan dunia berbasis demokrasi, seolah-olah sedang mengirim sinyal hijau kepada rezim-rezim otoriter: “Silakan bertindak sesuka hati, kami sudah tidak terlalu peduli lagi.”

Sejak 2018, Trump memang sering bercanda bahwa Amerika akan keluar dari NATO. Jika pada 2027 Amerika benar-benar memutus sebagian kerja sama pertahanan, kredibilitas Artikel 5 NATO — prinsip “serangan terhadap satu adalah serangan terhadap semua” — akan langsung dipertanyakan. Rusia pasti akan memanfaatkan celah itu untuk memperluas agresinya ke negara-negara Eropa lainnya. Selama 76 tahun, Artikel 5 adalah penangkal utama yang membuat Uni Soviet (dan kemudian Rusia) berpikir seribu kali sebelum menyerang anggota NATO. Melemahkan Artikel 5 berarti membuka pintu kekacauan.

Kilas Balik NATO

NATO lahir pada 1949 dengan hanya 12 anggota. Kini aliansi ini memiliki 32 negara dan menjadi kekuatan pertahanan terkuat di dunia. Artikel 5 adalah tiang utamanya. Pada 1950-an hingga akhir Perang Dingin, Amerika memberikan kontribusi terbesar — baik dana maupun personel.

Masalah mulai muncul setelah krisis ekonomi global 2008. Banyak negara Eropa kesulitan memenuhi target anggaran pertahanan 2% GDP yang disepakati di KTT Wales 2014. Trump kemudian menggunakan alasan itu untuk terus mengkritik dan mengancam keluar dari NATO. Invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 memang menjadi “pukulan keras” yang menyadarkan Eropa. Akhirnya, rata-rata anggaran pertahanan negara-negara NATO naik menjadi sekitar 1,8% GDP — meski masih banyak yang belum mencapai 2%, apalagi 5%.

Di satu sisi, rakyat Amerika memang lelah menjadi “polisi dunia”. Di sisi lain, Eropa selama puluhan tahun terlalu nyaman bersandar pada payung keamanan Amerika. Ketika gelombang populisme naik dan Trump kembali berkuasa, suara rakyat Amerika semakin keras: “Biarkan Eropa menanggung beban sendiri.”

Namun, menekan atau mengancam NATO di saat krisis seperti sekarang bukanlah langkah bijak.

Ancaman di Tahun 2027

Eropa kehabisan waktu. Sebelum 2027, Benua Biru itu harus melakukan militerisasi skala penuh. Jika masih bergantung sepenuhnya pada Amerika, nasibnya bisa sama seperti Ukraina saat ini. Amerika sudah tidak lagi bisa diandalkan 100%.

Situasi saat ini sudah sangat kritis. Rusia dan NATO sedang berada dalam fase perang hybrid: drone-drone pengintai Rusia terus terdeteksi di atas fasilitas militer Jerman, Rumania, hingga negara-negara Baltik. Jika Amerika terlihat semakin skeptis terhadap sekutunya sendiri, Rusia tidak akan punya alasan untuk tidak meningkatkan eskalasi — bahkan invasi terbuka ke negara-negara Baltik atau Polandia bukan lagi hal mustahil.

Tapi Rusia juga harus ingat: meskipun tanpa Amerika sekalipun, kekuatan militer konvensional Eropa (ditambah Inggris, Prancis yang punya senjata nuklir, serta Polandia yang sedang gila-gilaan memodernisasi angkatan bersenjatanya) masih jauh lebih superior. Pengamat militer sepakat: jika Rusia nekat menyerang anggota NATO, rezim Putin bisa runtuh dalam hitungan bulan.

Pada akhirnya, meskipun hubungan Amerika–NATO sedang renggang, Rusia harus sadar bahwa mereka tidak akan mampu bertahan melawan NATO yang bersatu — dengan atau tanpa Amerika.

Eropa, bangkitlah. Tanggung jawab keamanan kini benar-benar ada di tangan kalian. Jika “pria oren” itu ingin pergi, biarkan saja — asalkan kalian sudah siap dengan militer kalian sendiri.

Angin sepoi-sepoi masih bertiup lembut di taman-taman kota Warsawa. Anak-anak masih bermain dan tertawa. Semoga musim panas tahun depan, dan tahun-tahun sesudahnya, kedamaian itu masih bisa mereka rasakan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Trump, Rusia, dan Cina: Risiko Runtuhnya Tatanan Dunia Liberal

Oleh Dennis Ramadhan Selama Perang Dunia II, rezim Nazi Jerman melakukan invasi brutal ke hampir seluruh negara di Eropa. Tanpa campur tangan Amerika Serikat, besar kemungkinan Eropa akan jatuh sepenuhnya ke tangan Hitler, dan hingga kini benua itu mungkin tidak akan pernah menikmati kebebasan serta demokrasi. Peran Amerika dalam membela sekutu dari kekejaman rezim otoriter pada Perang Dunia II tidak boleh dilupakan oleh negara-negara demokrasi saat ini. Pasca-Perang Dunia II, Amerika terus memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas dan mempertahankan tatanan dunia liberal hingga hari ini. Setelah Perang Dunia II, Amerika berhasil menangkal ancaman nyata dari ideologi komunisme yang dipropagandakan Uni Soviet. Ketika Uni Soviet runtuh pada 1991, Amerika seolah kehilangan “musuh abadi”. Namun, memasuki awal abad ke-21, muncul kekuatan superpower baru yang berpotensi mengancam tatanan demokrasi dunia: Tiongkok (Cina). Pertumbuh...

Ukraina: Menuju "Big Israel" di Eropa Timur

Oleh Dennis Ramadhan Di awal invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022, Rusia mencoba menduduki Kyiv dalam waktu tiga hari. Namun, invasi tersebut gagal total berkat bantuan militer dari sekutu serta pelatihan militer yang telah ditekuni Ukraina beberapa tahun sebelumnya. Saat runtuhnya Uni Soviet, Ukraina menyerahkan sejumlah senjata nuklirnya kepada Rusia dengan kompensasi berupa jaminan keamanan. Penyerahan senjata nuklir dan komitmen jaminan keamanan itu tertuang dalam Memorandum Budapest. Namun, Rusia sebagai penjamin keamanan justru menusuk Ukraina dari belakang: mencaplok Crimea pada 2014 dan menginvasi Ukraina pada 2022. Invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 menunjukkan betapa rapuhnya janji-janji yang tertulis di atas kertas. Meskipun Rusia mencoba menyerang Ukraina pada 2022, setelah lebih dari 3,5 tahun berlalu, Rusia tidak mampu menduduki seluruh wilayah Ukraina, bahkan kota Kyiv sekalipun. Padahal, Rusia digadang-gadang sebag...

Rusia vs Ukraina: Ketika Negara Tanpa Angkatan Laut Mengalahkan Armada Laut Terkuat Ketiga Dunia

Oleh Dennis Ramadhan Dalam peperangan, peranan angkatan laut sangatlah krusial. Tanpa adanya angkatan laut, perang tidak mungkin akan bisa dimenangkan dengan mudah. Sejarah membuktikan bahwa negara yang memiliki pasukan matra laut yang kuat mampu menguasai dunia. Inggris pada era abad ke-19–20 memiliki angkatan laut yang sangat kuat hingga mampu menguasai 25% wilayah dunia termasuk koloni-koloninya di belahan bumi selatan. Jerman pada Perang Dunia I mengalami kesulitan menghadapi Sekutu berkat blokade militer terutama di laut yang dilakukan oleh Inggris. Amerika juga bukan pengecualian; Amerika membangun angkatan lautnya menjadi yang terkuat di bumi saat ini. Amerika memiliki 11 kapal induk dan ratusan kapal perang, menunjukkan ambisi dominasi matra laut yang kuat. Tidak cukup dengan Amerika, Cina yang merupakan rival abadi Amerika saat ini tidak mau ketinggalan. Saat ini Cina membangun kekuatan matra lautnya dengan serius. Di...