Oleh Dennis Ramadhan
Kejadian tragis kembali terjadi, kali ini di Sydney. Penembakan terhadap komunitas Yahudi berlangsung di Australia pada hari Minggu. Akibatnya, sekitar 15 orang tewas dan puluhan luka-luka dalam peristiwa tersebut. Perlu diketahui, ini bukan pertama kalinya di Australia. Pada tahun 2024, otoritas keamanan Australia menyatakan Iran sebagai dalang serangan pembakaran terhadap sebuah restoran kosher di Sydney dan sinagoge di Melbourne. Kejadian penembakan kali ini menunjukkan pola yang serupa. Meskipun belum diketahui siapa dalang di balik serangan itu, Iran dicurigai sebagai pihak yang bertanggung jawab.
Banyak pihak menilai serangan itu sebagai bentuk false flag yang sengaja dilakukan Israel, tetapi tak sedikit pula yang menduga Iran sebagai pelaku utamanya. Masalahnya, pola serangan terhadap komunitas Yahudi di Australia selalu mirip. Tentu saja, kita tidak bisa langsung menilai peristiwa itu sebagai false flag atau ada unsur kesengajaan dari Israel. Justru Iran patut dicurigai sebagai aktor utama.
Apa pun motivasi Iran terkait aksi penembakan tersebut, Israel harus merespons tindakan yang dilakukan Iran. Iran dan proksi-proksinya selalu melakukan aksi teror terhadap komunitas Yahudi di seluruh dunia, baik di Eropa, Asia, maupun Amerika. Lalu, mengapa Iran selalu menyerang komunitas Yahudi di seluruh dunia? Jawabannya karena Iran adalah paper tiger. Maksudnya, dari segi kapabilitas militer, Iran tidak mampu memberikan kerusakan signifikan terhadap Israel. Serangan rudal balistik Iran beberapa waktu lalu berhasil diintercept, drone-drone Iran ditembak jatuh, dan serangan melalui proksi-proksinya juga gagal total. Lalu, dengan cara apa lagi Iran bisa membalas serangan Israel? Ya, dengan melancarkan serangan terhadap komunitas Yahudi di luar wilayah Israel.
Iran tak akan pernah mampu melawan Israel secara militer langsung. Israel jauh lebih superior. Satu-satunya cara bagi Iran untuk membalas adalah melalui aksi terorisme. Meskipun demikian, Israel tidak bisa terus-menurus menanggung kejadian serupa selama bertahun-tahun. Aksi serangan ini harus segera dihentikan agar tidak terulang lagi terhadap orang-orang Yahudi.
Satu-satunya jalan adalah menghentikan rezim Mullah di Iran untuk selamanya. Israel dan Iran memang sudah terlibat konfrontasi langsung sejak 2024, tetapi kedua negara belum berperang dalam skala penuh. Pada 2025 ini, keduanya kembali terlibat dalam perang 12 hari. Israel sekali lagi membuktikan superioritas militernya atas Iran. Ribuan rudal balistik Iran berhasil dimusnahkan, fasilitas nuklir, pangkalan militer, hingga markas IRGC dibom oleh Israel. Hasilnya, Iran tak berdaya banyak. Serangan balasan dengan rudal balistik tidak efektif sama sekali—Israel mampu menginterceptnya. Drone-drone Iran tak ubahnya seperti layang-layang yang putus. Maka wajar jika Iran akhirnya membalas seperti seorang pengecut.
Israel Harus Melanjutkan Perang
Perang 12 hari itu belum cukup bagi Israel, karena laporan terbaru menunjukkan bahwa serangan Israel terhadap gudang penyimpanan rudal balistik Iran tidak seefektif yang diberitakan. Rudal-rudal tersebut tidak mengalami kerusakan signifikan, bahkan Iran kembali memproduksi ratusan rudal balistik. Oleh karena itu, Israel perlu mengkaji ulang dan melakukan verifikasi lebih lanjut mengenai keefektifan serangannya di masa depan.
Bagaimanapun, kedua belah pihak sepakat bahwa perang di masa mendatang tak terhindarkan. Israel perlu menghentikan ancaman dari Iran secara permanen: rezim Mullah harus segera berakhir. Masih banyak target militer di Iran yang harus dihancurkan oleh Israel, di antaranya:
- Fasilitas nuklir Natanz, Fordow, dan Isfahan
Pada perang 12 hari, Israel dan Amerika sudah menargetkannya, tetapi untuk memastikan benar-benar hancur, Israel harus membom kembali semua fasilitas tersebut.
- Pangkalan Militer IRGC
Israel harus menyerang lagi pos komando IRGC dan kantor pusatnya di Tehran. Israel juga bisa mengeliminasi para petinggi IRGC. Target selanjutnya adalah sistem pertahanan udara, pabrik rudal balistik, beserta komponen pendukungnya, serta puluhan hingga ratusan peluncur rudal balistik dan silo di seluruh wilayah Iran.
- Bunker Pemimpin Iran
Target utama: Ali Khamenei dan suksesornya, presiden, penasihat, serta para ilmuwan nuklir Iran.
- Fasilitas Kilang Minyak Bumi
Target utama: Fasilitas produksi gas dan minyak di Pulau Kharg, yang menyumbang 80% produksi serta pusat ekspor minyak Iran.
- Jaringan Kelistrikan dan Air
- Industri Alutsista Militer Rezim
- Komunikasi dan Jaringan Telekomunikasi
Target-target di atas adalah target militer yang sah untuk diserang oleh Israel. Tujuannya bukan hanya melemahkan rezim Mullah, tetapi juga memberi kesempatan kepada masyarakat Iran untuk melakukan revolusi. Dengan runtuhnya rezim Mullah, Iran dapat melakukan reformasi total di bidang ekonomi, sosial, dan politik.
Warga Iran berhak hidup bebas di bawah naungan demokrasi. Kebebasan dan demokrasi akan membawa Iran menuju masa depan yang lebih baik. Tidak akan ada lagi opresi dan pemaksaan terhadap masyarakat. Warga Iran berhak menentukan nasib masa depan mereka sendiri.
Israel juga diuntungkan dengan runtuhnya rezim Mullah: tidak akan ada lagi ancaman terorisme terhadap warga Israel atau komunitas Yahudi di seluruh dunia. Negara-negara Teluk akan merasa lebih aman dari proksi-proksi Iran, karena aksi teror mereka didanai oleh Iran. Keamanan dan stabilitas Timur Tengah ada di tangan Israel dan Amerika. Jika keduanya bekerja sama untuk menghentikan aktivitas teror rezim Mullah secara permanen, maka stabilitas dan keamanan wilayah bukan lagi mimpi, melainkan kenyataan yang dapat diraih.
Keputusan ada di tangan Trump dan Netanyahu: bertindak sekarang atau menyesal selamanya. Waktu terus berjalan, sementara Iran terus merencanakan aksi teror berikutnya.

Komentar
Posting Komentar