Langsung ke konten utama

Bukan Wilayah, Bukan Kejayaan: Alasan Sebenarnya Rusia Terus Berperang di Ukraina

Oleh Dennis Ramadhan Perang antara Rusia dan Ukraina telah berlangsung selama lebih dari tiga tahun. Suara tank masih mengaum di jalanan, suara artileri dan tembakan senjata masih sangat terdengar jelas. Masyarakat masih dihantui oleh perang yang tak berkesudahan ini. Jutaan personel militer dan warga sipil telah menjadi korban akibat tragedi kemanusiaan terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II. Ukraina secara konsisten menunjukkan keinginannya untuk melakukan gencatan senjata bahkan berdamai dengan Rusia. Namun, pihak Rusia berulang kali mencoba memperpanjang perang dan selalu mengelak untuk melakukan gencatan senjata. Padahal, Presiden Zelenskyy dan Trump sepakat bahwa perang yang tak berkesudahan ini harus segera dihentikan. Sejak tahun 2022, kedua belah pihak telah berulang kali melakukan proses negosiasi damai. Namun, hingga saat ini upaya negosiasi dan mediasi yang dilakukan masih belum menemui jalan terang. Ukraina sebagai p...

Menghentikan Ancaman Iran: Mengapa Israel Harus Akhiri Rezim Mullah Secara Permanen

Oleh Dennis Ramadhan

Kejadian tragis kembali terjadi, kali ini di Sydney. Penembakan terhadap komunitas Yahudi berlangsung di Australia pada hari Minggu. Akibatnya, sekitar 15 orang tewas dan puluhan luka-luka dalam peristiwa tersebut. Perlu diketahui, ini bukan pertama kalinya di Australia. Pada tahun 2024, otoritas keamanan Australia menyatakan Iran sebagai dalang serangan pembakaran terhadap sebuah restoran kosher di Sydney dan sinagoge di Melbourne. Kejadian penembakan kali ini menunjukkan pola yang serupa. Meskipun belum diketahui siapa dalang di balik serangan itu, Iran dicurigai sebagai pihak yang bertanggung jawab.

Banyak pihak menilai serangan itu sebagai bentuk false flag yang sengaja dilakukan Israel, tetapi tak sedikit pula yang menduga Iran sebagai pelaku utamanya. Masalahnya, pola serangan terhadap komunitas Yahudi di Australia selalu mirip. Tentu saja, kita tidak bisa langsung menilai peristiwa itu sebagai false flag atau ada unsur kesengajaan dari Israel. Justru Iran patut dicurigai sebagai aktor utama.

Apa pun motivasi Iran terkait aksi penembakan tersebut, Israel harus merespons tindakan yang dilakukan Iran. Iran dan proksi-proksinya selalu melakukan aksi teror terhadap komunitas Yahudi di seluruh dunia, baik di Eropa, Asia, maupun Amerika. Lalu, mengapa Iran selalu menyerang komunitas Yahudi di seluruh dunia? Jawabannya karena Iran adalah paper tiger. Maksudnya, dari segi kapabilitas militer, Iran tidak mampu memberikan kerusakan signifikan terhadap Israel. Serangan rudal balistik Iran beberapa waktu lalu berhasil diintercept, drone-drone Iran ditembak jatuh, dan serangan melalui proksi-proksinya juga gagal total. Lalu, dengan cara apa lagi Iran bisa membalas serangan Israel? Ya, dengan melancarkan serangan terhadap komunitas Yahudi di luar wilayah Israel.

Iran tak akan pernah mampu melawan Israel secara militer langsung. Israel jauh lebih superior. Satu-satunya cara bagi Iran untuk membalas adalah melalui aksi terorisme. Meskipun demikian, Israel tidak bisa terus-menurus menanggung kejadian serupa selama bertahun-tahun. Aksi serangan ini harus segera dihentikan agar tidak terulang lagi terhadap orang-orang Yahudi.

Satu-satunya jalan adalah menghentikan rezim Mullah di Iran untuk selamanya. Israel dan Iran memang sudah terlibat konfrontasi langsung sejak 2024, tetapi kedua negara belum berperang dalam skala penuh. Pada 2025 ini, keduanya kembali terlibat dalam perang 12 hari. Israel sekali lagi membuktikan superioritas militernya atas Iran. Ribuan rudal balistik Iran berhasil dimusnahkan, fasilitas nuklir, pangkalan militer, hingga markas IRGC dibom oleh Israel. Hasilnya, Iran tak berdaya banyak. Serangan balasan dengan rudal balistik tidak efektif sama sekali—Israel mampu menginterceptnya. Drone-drone Iran tak ubahnya seperti layang-layang yang putus. Maka wajar jika Iran akhirnya membalas seperti seorang pengecut.

Israel Harus Melanjutkan Perang

Perang 12 hari itu belum cukup bagi Israel, karena laporan terbaru menunjukkan bahwa serangan Israel terhadap gudang penyimpanan rudal balistik Iran tidak seefektif yang diberitakan. Rudal-rudal tersebut tidak mengalami kerusakan signifikan, bahkan Iran kembali memproduksi ratusan rudal balistik. Oleh karena itu, Israel perlu mengkaji ulang dan melakukan verifikasi lebih lanjut mengenai keefektifan serangannya di masa depan.

Bagaimanapun, kedua belah pihak sepakat bahwa perang di masa mendatang tak terhindarkan. Israel perlu menghentikan ancaman dari Iran secara permanen: rezim Mullah harus segera berakhir. Masih banyak target militer di Iran yang harus dihancurkan oleh Israel, di antaranya:

- Fasilitas nuklir Natanz, Fordow, dan Isfahan

Pada perang 12 hari, Israel dan Amerika sudah menargetkannya, tetapi untuk memastikan benar-benar hancur, Israel harus membom kembali semua fasilitas tersebut.

- Pangkalan Militer IRGC

Israel harus menyerang lagi pos komando IRGC dan kantor pusatnya di Tehran. Israel juga bisa mengeliminasi para petinggi IRGC. Target selanjutnya adalah sistem pertahanan udara, pabrik rudal balistik, beserta komponen pendukungnya, serta puluhan hingga ratusan peluncur rudal balistik dan silo di seluruh wilayah Iran.

- Bunker Pemimpin Iran

Target utama: Ali Khamenei dan suksesornya, presiden, penasihat, serta para ilmuwan nuklir Iran.

- Fasilitas Kilang Minyak Bumi

Target utama: Fasilitas produksi gas dan minyak di Pulau Kharg, yang menyumbang 80% produksi serta pusat ekspor minyak Iran.

- Jaringan Kelistrikan dan Air

- Industri Alutsista Militer Rezim

- Komunikasi dan Jaringan Telekomunikasi

Target-target di atas adalah target militer yang sah untuk diserang oleh Israel. Tujuannya bukan hanya melemahkan rezim Mullah, tetapi juga memberi kesempatan kepada masyarakat Iran untuk melakukan revolusi. Dengan runtuhnya rezim Mullah, Iran dapat melakukan reformasi total di bidang ekonomi, sosial, dan politik.

Warga Iran berhak hidup bebas di bawah naungan demokrasi. Kebebasan dan demokrasi akan membawa Iran menuju masa depan yang lebih baik. Tidak akan ada lagi opresi dan pemaksaan terhadap masyarakat. Warga Iran berhak menentukan nasib masa depan mereka sendiri.

Israel juga diuntungkan dengan runtuhnya rezim Mullah: tidak akan ada lagi ancaman terorisme terhadap warga Israel atau komunitas Yahudi di seluruh dunia. Negara-negara Teluk akan merasa lebih aman dari proksi-proksi Iran, karena aksi teror mereka didanai oleh Iran. Keamanan dan stabilitas Timur Tengah ada di tangan Israel dan Amerika. Jika keduanya bekerja sama untuk menghentikan aktivitas teror rezim Mullah secara permanen, maka stabilitas dan keamanan wilayah bukan lagi mimpi, melainkan kenyataan yang dapat diraih.

Keputusan ada di tangan Trump dan Netanyahu: bertindak sekarang atau menyesal selamanya. Waktu terus berjalan, sementara Iran terus merencanakan aksi teror berikutnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Trump, Rusia, dan Cina: Risiko Runtuhnya Tatanan Dunia Liberal

Oleh Dennis Ramadhan Selama Perang Dunia II, rezim Nazi Jerman melakukan invasi brutal ke hampir seluruh negara di Eropa. Tanpa campur tangan Amerika Serikat, besar kemungkinan Eropa akan jatuh sepenuhnya ke tangan Hitler, dan hingga kini benua itu mungkin tidak akan pernah menikmati kebebasan serta demokrasi. Peran Amerika dalam membela sekutu dari kekejaman rezim otoriter pada Perang Dunia II tidak boleh dilupakan oleh negara-negara demokrasi saat ini. Pasca-Perang Dunia II, Amerika terus memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas dan mempertahankan tatanan dunia liberal hingga hari ini. Setelah Perang Dunia II, Amerika berhasil menangkal ancaman nyata dari ideologi komunisme yang dipropagandakan Uni Soviet. Ketika Uni Soviet runtuh pada 1991, Amerika seolah kehilangan “musuh abadi”. Namun, memasuki awal abad ke-21, muncul kekuatan superpower baru yang berpotensi mengancam tatanan demokrasi dunia: Tiongkok (Cina). Pertumbuh...

Ukraina: Menuju "Big Israel" di Eropa Timur

Oleh Dennis Ramadhan Di awal invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022, Rusia mencoba menduduki Kyiv dalam waktu tiga hari. Namun, invasi tersebut gagal total berkat bantuan militer dari sekutu serta pelatihan militer yang telah ditekuni Ukraina beberapa tahun sebelumnya. Saat runtuhnya Uni Soviet, Ukraina menyerahkan sejumlah senjata nuklirnya kepada Rusia dengan kompensasi berupa jaminan keamanan. Penyerahan senjata nuklir dan komitmen jaminan keamanan itu tertuang dalam Memorandum Budapest. Namun, Rusia sebagai penjamin keamanan justru menusuk Ukraina dari belakang: mencaplok Crimea pada 2014 dan menginvasi Ukraina pada 2022. Invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 menunjukkan betapa rapuhnya janji-janji yang tertulis di atas kertas. Meskipun Rusia mencoba menyerang Ukraina pada 2022, setelah lebih dari 3,5 tahun berlalu, Rusia tidak mampu menduduki seluruh wilayah Ukraina, bahkan kota Kyiv sekalipun. Padahal, Rusia digadang-gadang sebag...

Rusia vs Ukraina: Dari Mitos Kekuatan Superpower ke Realitas Paper Tiger

Oleh Dennis Ramadhan Tak terasa sudah lebih dari tiga tahun sejak Putin menginstruksikan pasukannya untuk menduduki seluruh Ukraina dalam waktu tiga hari. Perang yang Putin harapkan bisa selesai dalam waktu 3 hari ternyata belum lekas selesai sampai sekarang. Rusia dulunya dikenal sebagai negara dengan pasukan militer nomor 2 terkuat di dunia setelah Amerika Serikat. Namun, setelah perang Rusia-Ukraina berlangsung, fakta menunjukkan hal yang berbeda. Militer Rusia tetap menjadi nomor 2, tetapi bukan di dunia, melainkan di Ukraina. Ini bukan candaan, tetapi fakta yang ada di lapangan. Sampai saat ini pun, Rusia belum mampu meraih superioritas udara di langit Ukraina. Justru kebanyakan jet tempur Rusia berhasil ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara Ukraina. Hal ini sangat ironis mengingat Ukraina hanyalah negara dengan perlengkapan militer yang sudah tua karena menggunakan teknologi peninggalan Soviet. Anehnya, Rusia tidak mampu...