Langsung ke konten utama

Bukan Wilayah, Bukan Kejayaan: Alasan Sebenarnya Rusia Terus Berperang di Ukraina

Oleh Dennis Ramadhan Perang antara Rusia dan Ukraina telah berlangsung selama lebih dari tiga tahun. Suara tank masih mengaum di jalanan, suara artileri dan tembakan senjata masih sangat terdengar jelas. Masyarakat masih dihantui oleh perang yang tak berkesudahan ini. Jutaan personel militer dan warga sipil telah menjadi korban akibat tragedi kemanusiaan terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II. Ukraina secara konsisten menunjukkan keinginannya untuk melakukan gencatan senjata bahkan berdamai dengan Rusia. Namun, pihak Rusia berulang kali mencoba memperpanjang perang dan selalu mengelak untuk melakukan gencatan senjata. Padahal, Presiden Zelenskyy dan Trump sepakat bahwa perang yang tak berkesudahan ini harus segera dihentikan. Sejak tahun 2022, kedua belah pihak telah berulang kali melakukan proses negosiasi damai. Namun, hingga saat ini upaya negosiasi dan mediasi yang dilakukan masih belum menemui jalan terang. Ukraina sebagai p...

Ukraina Tidak Butuh Jaminan Keamanan seperti Artikel 5 NATO

Oleh Dennis Ramadhan

Baru-baru ini, Gedung Putih mendiskusikan jaminan keamanan untuk Ukraina. Salah satu ide yang muncul adalah memberikan jaminan keamanan seperti model Artikel 5 NATO. Artikel 5 NATO menegaskan sistem keamanan kolektif, di mana bila salah satu negara aliansi diserang, maka serangan itu dianggap sebagai serangan terhadap semua anggota aliansi. Model jaminan keamanan tersebut akan diadopsi oleh Amerika dan sekutunya untuk memberikan kepastian keamanan kepada Ukraina. Sejauh ini, proses diskusi masih berlangsung, dan pihak Amerika menyatakan bahwa jaminan keamanan untuk Ukraina kali ini bukan pepesan kosong, melainkan bersifat mengikat.

Namun, masih banyak pengamat politik yang skeptis terhadap jaminan keamanan tersebut karena khawatir Amerika tidak memenuhi janji dan komitmennya. Amerika belakangan ini memang menunjukkan sikap yang kurang menyenangkan terhadap sekutunya sendiri. Presiden Trump selalu menyalahkan Eropa terkait invasi Rusia ke Ukraina. Kemudian, Trump juga menyalahkan Presiden Zelensky sebagai pihak yang tidak ingin berdamai dengan Putin. Padahal, kenyataannya justru Putin lah yang selalu menolak berdamai dan bersikeras ingin melanjutkan peperangan.

Sehingga, wajar jika banyak pihak mempertanyakan komitmen Amerika terhadap jaminan keamanan tersebut. Terhadap aliansi NATO saja Amerika bersikap skeptis, bagaimana mungkin mereka akan berkomitmen penuh terhadap Ukraina?

Membuktikan Komitmen Amerika

Memang, langkah Amerika untuk memberikan jaminan keamanan seperti Artikel 5 NATO merupakan sesuatu yang positif. Namun, hal ini akan sia-sia bila Amerika tidak memenuhi komitmennya secara penuh. Sejarah membuktikan bahwa jaminan keamanan sering kali hanya perjanjian di atas kertas semata. Ketika Nazi Jerman menyerang Polandia saat Perang Dunia II, pasukan Inggris dan Prancis sebagai penjamin keamanan Polandia ternyata menarik mundur pasukannya. Jerman dan Uni Soviet sebagai agresor secara bebas melakukan invasi ke Polandia. Kemudian, Memorandum Budapest—di mana Rusia sendiri sebagai penjamin keamanan—malah menyerang Ukraina.

Komitmen Amerika terhadap keamanan Ukraina sangat layak dipertanyakan. Ide penarikan pasukan Amerika dari Eropa turut menimbulkan skeptisisme terhadap janji-janjinya. Amerika sebelum Perang Dunia I dan II kerap bersikap isolasionis dan menarik diri dari pergaulan dunia. Tindakan Amerika kali ini juga serupa. Ukraina harus berhati-hati dan tidak boleh menyandarkan diri sepenuhnya pada Amerika. Amerika punya sejarah mengabaikan sekutunya sendiri, seperti di Vietnam, Afghanistan, Laos, Irak, Mesir—dan tak menutup kemungkinan juga Ukraina.

Janji Amerika dengan memberikan jaminan keamanan seperti Artikel 5 NATO tidak perlu dianggap serius oleh Ukraina. Sebab, sekutu sudah cukup skeptis dengan janji-janji tersebut. Apalagi jika Ukraina harus menyerahkan sebagian wilayahnya kepada agresor Rusia hanya demi mendapatkan janji keamanan yang mungkin saja pepesan kosong. Ukraina harus bertindak skeptis terhadap janji Amerika.

Jaminan Keamanan Terbaik untuk Ukraina

Jaminan keamanan terbaik bukan dari Eropa, Amerika, bahkan NATO, melainkan dari Ukraina itu sendiri. Perlu diingat bahwa tak pernah ada negara mana pun yang mau mengorbankan rakyatnya berperang demi negara lain. Apalagi dengan ketakutan negara-negara Eropa terhadap eskalasi semu dan Perang Dunia III, maka tak akan ada jaminan keamanan yang benar-benar dapat diandalkan.

Jaminan keamanan terbaik bagi Ukraina datang dari kekuatan militernya sendiri. Alih-alih memberikan jaminan keamanan, Amerika dan sekutu sebaiknya membanjiri Ukraina dengan persenjataan canggih dan modern. Semua persenjataan itu tidak perlu disumbangkan, melainkan dijual kepada Ukraina. Berikut ini persenjataan canggih untuk Angkatan Darat Ukraina yang perlu disuplai oleh sekutu:

- 200–300 unit tank tempur utama M1A1 Abrams

- 500–800 unit kendaraan infanteri M2 Bradley

- 600–1.000 unit kendaraan tempur darat dengan jamming anti-drone M1126 Stryker

- 100 unit peluncur M142 HIMARS dengan rudal ATACMS beserta 1.000 unit rudal jarak pendek

- 200 unit artileri M109A6 Paladin 155 mm

- 1 juta unit/tahun PGM 155 mm shell

- 20.000 unit rudal Javelin

- 6–10 unit sistem PAC-3 Patriot

- 2.000 unit drone kamikaze Switchblade dan Puma

Total dana yang dibutuhkan untuk pertahanan di atas berkisar antara 10–20 miliar dolar. Dana tersebut bisa diperoleh via mekanisme PURL atau pinjaman langsung.

Untuk Angkatan Udara Ukraina, agar Ukraina memiliki kekuatan udara yang lebih superior, berikut alutsista militer yang dibutuhkan:

- 150–250 unit jet tempur F-16 C/D Fighting Falcon Block 70

- 5.000 unit rudal udara ke udara AIM-120D AMRAAM

- 1.000 unit rudal AGM-88 HARM

- 5.000 unit bom presisi JDAM-ER

- 500 unit rudal jelajah AGM-158 JASSM-ER

- 5 unit MQ-9 Reaper

- 5 unit E-3 Sentry AWACS

Total dana yang dibutuhkan sekitar 50–100 miliar dolar. Amerika bisa memberikan dana via Foreign Military Sales (FMS).

Untuk Angkatan Laut Ukraina, kita harus realistis karena Ukraina sama sekali tidak memiliki angkatan laut yang kuat. Namun, sekutu tetap harus memberikan sejumlah peralatan militer canggih yang dapat digunakan untuk menghancurkan kapal perang Rusia, di antaranya:

- 50 unit kapal patroli Mark VI

- 500 rudal anti-kapal RGM-84 Harpoon

- 1.000 unit ranjau laut ER Quickstrike atau CAPTOR

Total dana yang dibutuhkan berkisar antara 10–20 miliar dolar, juga bisa didanai via FMS.

Jadi, itulah beberapa alutsista militer canggih yang wajib disuplai oleh sekutu untuk militer Ukraina. Peralatan militer tersebut bukan hanya bermanfaat untuk mempertahankan kedaulatan wilayah Ukraina, tetapi juga sebagai upaya pencegahan agar Rusia tidak lagi berani menyerang Ukraina.

Selanjutnya, jumlah personel militer yang harus dimiliki Ukraina berkisar antara 800.000–1.000.000 personel. Sekutu bisa mendanai Ukraina untuk melatih dan menambah jumlah personel dalam kisaran angka tersebut. Jumlah pasukan yang banyak berguna untuk mencegah agresi Rusia di masa mendatang.

Sekutu tak perlu memberikan jaminan keamanan yang belum tentu mereka mampu penuhi. Sebaliknya, sekutu dapat membantu Ukraina memodernisasi persenjataannya serta memulihkan perekonomiannya. Jika Ukraina kuat secara ekonomi dan militer, maka keamanan Eropa bisa terjamin. Namun, jika sebaliknya terjadi, jangan harap Eropa akan aman dari ancaman agresi Rusia.

Mudah-mudahan, jika pada akhirnya Ukraina menyetujui jaminan keamanan Amerika, Amerika sebagai penjamin keamanan tidak menyerang Ukraina—layaknya pemimpin yang dikagumi Trump.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Trump, Rusia, dan Cina: Risiko Runtuhnya Tatanan Dunia Liberal

Oleh Dennis Ramadhan Selama Perang Dunia II, rezim Nazi Jerman melakukan invasi brutal ke hampir seluruh negara di Eropa. Tanpa campur tangan Amerika Serikat, besar kemungkinan Eropa akan jatuh sepenuhnya ke tangan Hitler, dan hingga kini benua itu mungkin tidak akan pernah menikmati kebebasan serta demokrasi. Peran Amerika dalam membela sekutu dari kekejaman rezim otoriter pada Perang Dunia II tidak boleh dilupakan oleh negara-negara demokrasi saat ini. Pasca-Perang Dunia II, Amerika terus memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas dan mempertahankan tatanan dunia liberal hingga hari ini. Setelah Perang Dunia II, Amerika berhasil menangkal ancaman nyata dari ideologi komunisme yang dipropagandakan Uni Soviet. Ketika Uni Soviet runtuh pada 1991, Amerika seolah kehilangan “musuh abadi”. Namun, memasuki awal abad ke-21, muncul kekuatan superpower baru yang berpotensi mengancam tatanan demokrasi dunia: Tiongkok (Cina). Pertumbuh...

Ukraina: Menuju "Big Israel" di Eropa Timur

Oleh Dennis Ramadhan Di awal invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022, Rusia mencoba menduduki Kyiv dalam waktu tiga hari. Namun, invasi tersebut gagal total berkat bantuan militer dari sekutu serta pelatihan militer yang telah ditekuni Ukraina beberapa tahun sebelumnya. Saat runtuhnya Uni Soviet, Ukraina menyerahkan sejumlah senjata nuklirnya kepada Rusia dengan kompensasi berupa jaminan keamanan. Penyerahan senjata nuklir dan komitmen jaminan keamanan itu tertuang dalam Memorandum Budapest. Namun, Rusia sebagai penjamin keamanan justru menusuk Ukraina dari belakang: mencaplok Crimea pada 2014 dan menginvasi Ukraina pada 2022. Invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 menunjukkan betapa rapuhnya janji-janji yang tertulis di atas kertas. Meskipun Rusia mencoba menyerang Ukraina pada 2022, setelah lebih dari 3,5 tahun berlalu, Rusia tidak mampu menduduki seluruh wilayah Ukraina, bahkan kota Kyiv sekalipun. Padahal, Rusia digadang-gadang sebag...

Rusia vs Ukraina: Ketika Negara Tanpa Angkatan Laut Mengalahkan Armada Laut Terkuat Ketiga Dunia

Oleh Dennis Ramadhan Dalam peperangan, peranan angkatan laut sangatlah krusial. Tanpa adanya angkatan laut, perang tidak mungkin akan bisa dimenangkan dengan mudah. Sejarah membuktikan bahwa negara yang memiliki pasukan matra laut yang kuat mampu menguasai dunia. Inggris pada era abad ke-19–20 memiliki angkatan laut yang sangat kuat hingga mampu menguasai 25% wilayah dunia termasuk koloni-koloninya di belahan bumi selatan. Jerman pada Perang Dunia I mengalami kesulitan menghadapi Sekutu berkat blokade militer terutama di laut yang dilakukan oleh Inggris. Amerika juga bukan pengecualian; Amerika membangun angkatan lautnya menjadi yang terkuat di bumi saat ini. Amerika memiliki 11 kapal induk dan ratusan kapal perang, menunjukkan ambisi dominasi matra laut yang kuat. Tidak cukup dengan Amerika, Cina yang merupakan rival abadi Amerika saat ini tidak mau ketinggalan. Saat ini Cina membangun kekuatan matra lautnya dengan serius. Di...