Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2025

Bukan Wilayah, Bukan Kejayaan: Alasan Sebenarnya Rusia Terus Berperang di Ukraina

Oleh Dennis Ramadhan Perang antara Rusia dan Ukraina telah berlangsung selama lebih dari tiga tahun. Suara tank masih mengaum di jalanan, suara artileri dan tembakan senjata masih sangat terdengar jelas. Masyarakat masih dihantui oleh perang yang tak berkesudahan ini. Jutaan personel militer dan warga sipil telah menjadi korban akibat tragedi kemanusiaan terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II. Ukraina secara konsisten menunjukkan keinginannya untuk melakukan gencatan senjata bahkan berdamai dengan Rusia. Namun, pihak Rusia berulang kali mencoba memperpanjang perang dan selalu mengelak untuk melakukan gencatan senjata. Padahal, Presiden Zelenskyy dan Trump sepakat bahwa perang yang tak berkesudahan ini harus segera dihentikan. Sejak tahun 2022, kedua belah pihak telah berulang kali melakukan proses negosiasi damai. Namun, hingga saat ini upaya negosiasi dan mediasi yang dilakukan masih belum menemui jalan terang. Ukraina sebagai p...

Dari Hiperinflasi Menuju Potensi Invasi : Nasib Terakhir Venezuela Ada di Tangan Trump

- Oleh Dennis Ramadhan Di belahan selatan Benua Amerika, keadaan sedang tidak baik-baik saja. Di kota Caracas yang cerah, Nicolás Maduro hanya bisa termenung memikirkan masa depan kepemimpinannya. Ia sudah berkuasa memimpin Venezuela sejak tahun 2013 hingga sekarang. Namun, Maduro semakin khawatir akan posisi politiknya yang kian lemah seiring berjalannya waktu. Di mata pemimpin dunia demokratis, Maduro dianggap sebagai pemimpin otoriter dan tidak memiliki legitimasi sebagai presiden yang sah. Maduro juga dituduh melakukan kecurangan dalam proses pemilu yang dinilai tidak transparan, tidak adil, dan penuh manipulasi. Proses pemilu yang tidak adil itu menyebabkan merosotnya semangat demokrasi di negara tersebut. Indeks demokrasi dunia mengklasifikasikan Venezuela sebagai rezim otoriter. Rezim Maduro juga diketahui melakukan berbagai pelanggaran terhadap nilai-nilai HAM, seperti penahanan sewenang-wenang terhadap demonstran dan ...

America First 2.0 : Proteksionisme Trump dan Akibatnya Bagi Dunia

Oleh Dennis Ramadhan Beberapa bulan telah berlalu sejak Presiden Amerika Serikat Donald Trump terpilih menjadi presiden ke-47. Beberapa kritik dan pujian selalu datang silih berganti, namun itu semua tidak lantas membuat presiden yang dikenal senang bermain golf ini lemah. Ya, Donald Trump bukan presiden yang lemah, bahkan sangat kuat tetapi dari segi kepribadiannya saja bukan dari kebijakan luar negeri-nya. Kebijakan luar negeri Donald Trump tidaklah sebaik yang kita kira. Banyak dari kebijakan yang diambil oleh Trump dinilai merugikan pemerintah dan masyarakat Amerika. Trump selalu membanggakan kebijakan luar negeri 'America First' yang dinilai proteksionis bahkan Isolasionis. Deklarasi perang dagang yang diumumkan Trump kepada negara-negara di dunia telah membuat pertumbuhan ekonomi Amerika dan dunia melambat. Penerapan tarif yang begitu tinggi pada produk impor dari negara lain menyebabkan inflasi terus naik. Dampaknya...

Perang 12 Hari Dengan Iran, Militer Israel Lebih Superior

Oleh Dennis Ramadhan Ada satu fakta yang sangat menarik: Amerika Serikat merupakan negara demokrasi di benua Amerika, tetapi bertetangga dengan Kuba yang menganut sistem komunis. Ukuran wilayah Amerika Serikat jauh lebih besar dibandingkan Kuba. Di belahan bumi bagian timur, terdapat Republik Rakyat Cina yang juga komunis, tetapi bertetangga dengan Taiwan yang menerapkan sistem demokrasi. Ukuran wilayah Cina pun jauh lebih besar daripada Taiwan. Sungguh suatu kemiripan yang sangat menarik jika dikaji dari sudut pandang geopolitik. Sejak mendeklarasikan berdirinya Republik Rakyat Cina pada tahun 1949, Cina selalu mengklaim bahwa Taiwan adalah bagian dari wilayahnya. Menariknya, Cina menegaskan kebijakan “Satu Cina” — bahwa hanya ada satu Cina di dunia, yaitu Republik Rakyat Cina — namun ironisnya, Cina tidak pernah benar-benar memerintah atau menguasai Taiwan secara langsung. Hal ini bukanlah sesuatu yang aneh atau tidak wajar; sejarah p...

Langkah Cerdas Taiwan Hadapi Potensi Perang Dengan Cina

 Oleh Dennis Ramadhan Ada satu fakta yang sangat menarik: Amerika Serikat merupakan negara demokrasi di benua Amerika, tetapi bertetangga dengan Kuba yang menganut sistem komunis. Ukuran wilayah Amerika Serikat jauh lebih besar dibandingkan Kuba. Di belahan bumi bagian timur, terdapat Republik Rakyat Cina yang juga komunis, tetapi bertetangga dengan Taiwan yang menerapkan sistem demokrasi. Ukuran wilayah Cina pun jauh lebih besar daripada Taiwan. Sungguh suatu kemiripan yang sangat menarik jika dikaji dari sudut pandang geopolitik. Sejak mendeklarasikan berdirinya Republik Rakyat Cina pada tahun 1949, Cina selalu mengklaim bahwa Taiwan adalah bagian dari wilayahnya. Menariknya, Cina menegaskan kebijakan “Satu Cina” — bahwa hanya ada satu Cina di dunia, yaitu Republik Rakyat Cina — namun ironisnya, Cina tidak pernah benar-benar memerintah atau menguasai Taiwan secara langsung. Hal ini bukanlah sesuatu yang aneh atau tidak wajar...

Presiden Trump, Ini Jaminan Keamanan Terbaik Untuk Ukraina

                                         Oleh Dennis Ramadhan Perang Rusia dan Ukraina telah memasuki fase kritis di mana kedua belah pihak masih saling menyerang satu sama lain namun tidak mampu mengubah peta pertempuran secara signifikan. Perang yang berkelanjutan tanpa ada kemenangan yang pasti tentu akan menghabiskan banyak sumber daya dari kedua belah pihak, serta korban yang semakin bertambah baik itu tentara yang tewas atau masyarakat umum. Perang yang sangat mengerikan ini sudah seharusnya berakhir dan Eropa bahkan dunia sudah jenuh dengan peperangan ini. Kita setidaknya setuju dengan Presiden Donald Trump yang mengatakan bahwa perang Rusia dan Ukraina seharusnya tidak pernah terjadi. Jika perang ini terus berlanjut maka akan dikhawatirkan akan meningkatkan eskalasi yang berujung pada perang antara Rusia dan NATO. Hal itu merupakan sk...

28-Poin Proposal Perdamaian Cenderung Lebih Menguntungkan Rusia

Oleh Dennis Ramadhan Sudah tiga tahun penuh sejak Rusia melancarkan invasi skala besar ke Ukraina. Darah terus mengalir, kota-kota menjadi reruntuhan, dan jutaan nyawa melayang. Semua orang—tanpa terkecuali—ingin perang ini berakhir secepat mungkin. Bahkan Winston Churchill pernah berkata, “Berunding selalu lebih baik daripada berperang. Namun, berunding untuk maksud perdamaian bukan berarti menyerah dan tunduk pada tekanan pihak lawan. Presiden Donald Trump pernah dengan percaya diri mengklaim bahwa dia bisa menghentikan perang Rusia-Ukraina dalam waktu 24 jam saja. Kini, setelah berbulan-bulan pertemuan, termasuk pertemuan Trump-Putin di Alaska pada Agustus lalu, Donald Trump menyadari: menyelesaikan konflik ini jauh lebih sulit daripada sekadar omong kosong di panggung kampanye. Baru-baru ini, Amerika Serikat mengajukan proposal perdamaian yang disebut “Rencana Damai 28 Poin”. Pembuatan proposal perdamaian ini terinspirasi d...