Oleh Dennis Ramadhan Perang antara Rusia dan Ukraina telah berlangsung selama lebih dari tiga tahun. Suara tank masih mengaum di jalanan, suara artileri dan tembakan senjata masih sangat terdengar jelas. Masyarakat masih dihantui oleh perang yang tak berkesudahan ini. Jutaan personel militer dan warga sipil telah menjadi korban akibat tragedi kemanusiaan terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II. Ukraina secara konsisten menunjukkan keinginannya untuk melakukan gencatan senjata bahkan berdamai dengan Rusia. Namun, pihak Rusia berulang kali mencoba memperpanjang perang dan selalu mengelak untuk melakukan gencatan senjata. Padahal, Presiden Zelenskyy dan Trump sepakat bahwa perang yang tak berkesudahan ini harus segera dihentikan. Sejak tahun 2022, kedua belah pihak telah berulang kali melakukan proses negosiasi damai. Namun, hingga saat ini upaya negosiasi dan mediasi yang dilakukan masih belum menemui jalan terang. Ukraina sebagai p...
- Oleh Dennis Ramadhan Di belahan selatan Benua Amerika, keadaan sedang tidak baik-baik saja. Di kota Caracas yang cerah, Nicolás Maduro hanya bisa termenung memikirkan masa depan kepemimpinannya. Ia sudah berkuasa memimpin Venezuela sejak tahun 2013 hingga sekarang. Namun, Maduro semakin khawatir akan posisi politiknya yang kian lemah seiring berjalannya waktu. Di mata pemimpin dunia demokratis, Maduro dianggap sebagai pemimpin otoriter dan tidak memiliki legitimasi sebagai presiden yang sah. Maduro juga dituduh melakukan kecurangan dalam proses pemilu yang dinilai tidak transparan, tidak adil, dan penuh manipulasi. Proses pemilu yang tidak adil itu menyebabkan merosotnya semangat demokrasi di negara tersebut. Indeks demokrasi dunia mengklasifikasikan Venezuela sebagai rezim otoriter. Rezim Maduro juga diketahui melakukan berbagai pelanggaran terhadap nilai-nilai HAM, seperti penahanan sewenang-wenang terhadap demonstran dan ...