Langsung ke konten utama

Postingan

Bukan Wilayah, Bukan Kejayaan: Alasan Sebenarnya Rusia Terus Berperang di Ukraina

Oleh Dennis Ramadhan Perang antara Rusia dan Ukraina telah berlangsung selama lebih dari tiga tahun. Suara tank masih mengaum di jalanan, suara artileri dan tembakan senjata masih sangat terdengar jelas. Masyarakat masih dihantui oleh perang yang tak berkesudahan ini. Jutaan personel militer dan warga sipil telah menjadi korban akibat tragedi kemanusiaan terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II. Ukraina secara konsisten menunjukkan keinginannya untuk melakukan gencatan senjata bahkan berdamai dengan Rusia. Namun, pihak Rusia berulang kali mencoba memperpanjang perang dan selalu mengelak untuk melakukan gencatan senjata. Padahal, Presiden Zelenskyy dan Trump sepakat bahwa perang yang tak berkesudahan ini harus segera dihentikan. Sejak tahun 2022, kedua belah pihak telah berulang kali melakukan proses negosiasi damai. Namun, hingga saat ini upaya negosiasi dan mediasi yang dilakukan masih belum menemui jalan terang. Ukraina sebagai p...

Proposal 6 Poin Eropa untuk Ukraina: Jaminan Keamanan yang Kuat atau Janji Kosong?

Oleh Dennis Ramadhan Baru-baru ini, Eropa sebagai sekutu dekat Ukraina memaparkan poin-poin jaminan keamanan untuk Ukraina. Jaminan keamanan itu berisi 6 poin penting yang diklaim mampu memberikan jaminan keamanan yang kuat dan mengikat. Sejarah jaminan keamanan bagi Ukraina tidaklah berlangsung mulus. Memorandum Budapest yang diikrarkan oleh Rusia selaku penjamin keamanan justru dikhianati oleh Rusia sendiri. Amerika dan Eropa yang juga terlibat dalam memorandum itu juga tidak memenuhi janjinya untuk memberikan keamanan kepada Ukraina. Di tahun 2014, Rusia mencaplok Crimea yang merupakan bagian dari wilayah Ukraina. Tindakan Rusia tersebut merupakan pelanggaran terhadap Memorandum Budapest mengingat Rusia sebagai pihak penjamin keamanan dalam memorandum itu. Pihak Amerika dan Eropa juga tidak dapat bertindak banyak saat invasi Rusia ke Crimea. Di tahun 2022, saat invasi Rusia ke Ukraina, sekutu langsung memberikan bantuan mili...

Menghentikan Ancaman Iran: Mengapa Israel Harus Akhiri Rezim Mullah Secara Permanen

Oleh Dennis Ramadhan Kejadian tragis kembali terjadi, kali ini di Sydney. Penembakan terhadap komunitas Yahudi berlangsung di Australia pada hari Minggu. Akibatnya, sekitar 15 orang tewas dan puluhan luka-luka dalam peristiwa tersebut. Perlu diketahui, ini bukan pertama kalinya di Australia. Pada tahun 2024, otoritas keamanan Australia menyatakan Iran sebagai dalang serangan pembakaran terhadap sebuah restoran kosher di Sydney dan sinagoge di Melbourne. Kejadian penembakan kali ini menunjukkan pola yang serupa. Meskipun belum diketahui siapa dalang di balik serangan itu, Iran dicurigai sebagai pihak yang bertanggung jawab. Banyak pihak menilai serangan itu sebagai bentuk false flag yang sengaja dilakukan Israel, tetapi tak sedikit pula yang menduga Iran sebagai pelaku utamanya. Masalahnya, pola serangan terhadap komunitas Yahudi di Australia selalu mirip. Tentu saja, kita tidak bisa langsung menilai peristiwa itu sebagai false flag ...

Ukraina Tidak Butuh Jaminan Keamanan seperti Artikel 5 NATO

Oleh Dennis Ramadhan Baru-baru ini, Gedung Putih mendiskusikan jaminan keamanan untuk Ukraina. Salah satu ide yang muncul adalah memberikan jaminan keamanan seperti model Artikel 5 NATO. Artikel 5 NATO menegaskan sistem keamanan kolektif, di mana bila salah satu negara aliansi diserang, maka serangan itu dianggap sebagai serangan terhadap semua anggota aliansi. Model jaminan keamanan tersebut akan diadopsi oleh Amerika dan sekutunya untuk memberikan kepastian keamanan kepada Ukraina. Sejauh ini, proses diskusi masih berlangsung, dan pihak Amerika menyatakan bahwa jaminan keamanan untuk Ukraina kali ini bukan pepesan kosong, melainkan bersifat mengikat. Namun, masih banyak pengamat politik yang skeptis terhadap jaminan keamanan tersebut karena khawatir Amerika tidak memenuhi janji dan komitmennya. Amerika belakangan ini memang menunjukkan sikap yang kurang menyenangkan terhadap sekutunya sendiri. Presiden Trump selalu menyalahkan E...

Trump Lebih Berani dari Biden: Ukraina Bebas Target Shadow Fleet Rusia

Oleh Dennis Ramadhan Hal di luar dugaan kembali terjadi. Tidak, kali ini Trump tidak mencoba memberikan bunga mawar kepada Putin. Sebaliknya, justru Trump memberikan tamparan keras kepadanya. Trump mungkin dikenal sebagai presiden paling pro-Rusia dalam sejarah, tetapi sulitnya memprediksi kebijakan luar negerinya membuat sejumlah pengamat bingung. Kali ini, Trump bertindak lebih berani daripada Biden: Presiden Trump memberikan lampu hijau kepada Ukraina untuk melakukan serangan terhadap sejumlah kapal shadow fleet Rusia yang diduga menyelundupkan minyak bumi ke negara lain. Di masa kepresidenan Joe Biden, pemerintah menolak memberikan izin kepada Ukraina untuk menyerang armada bayangan itu karena khawatir akan eskalasi. Namun, di masa kepresidenan Trump, Ukraina akhirnya bebas melakukan penyerangan atau disrupsi terhadap armada bayangan tersebut. Selama dua minggu belakangan, Ukraina telah menyerang sejumlah kapal shadow fleet Rusia ...

Trump, Rusia, dan Cina: Risiko Runtuhnya Tatanan Dunia Liberal

Oleh Dennis Ramadhan Selama Perang Dunia II, rezim Nazi Jerman melakukan invasi brutal ke hampir seluruh negara di Eropa. Tanpa campur tangan Amerika Serikat, besar kemungkinan Eropa akan jatuh sepenuhnya ke tangan Hitler, dan hingga kini benua itu mungkin tidak akan pernah menikmati kebebasan serta demokrasi. Peran Amerika dalam membela sekutu dari kekejaman rezim otoriter pada Perang Dunia II tidak boleh dilupakan oleh negara-negara demokrasi saat ini. Pasca-Perang Dunia II, Amerika terus memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas dan mempertahankan tatanan dunia liberal hingga hari ini. Setelah Perang Dunia II, Amerika berhasil menangkal ancaman nyata dari ideologi komunisme yang dipropagandakan Uni Soviet. Ketika Uni Soviet runtuh pada 1991, Amerika seolah kehilangan “musuh abadi”. Namun, memasuki awal abad ke-21, muncul kekuatan superpower baru yang berpotensi mengancam tatanan demokrasi dunia: Tiongkok (Cina). Pertumbuh...

Rusia vs Ukraina: Dari Mitos Kekuatan Superpower ke Realitas Paper Tiger

Oleh Dennis Ramadhan Tak terasa sudah lebih dari tiga tahun sejak Putin menginstruksikan pasukannya untuk menduduki seluruh Ukraina dalam waktu tiga hari. Perang yang Putin harapkan bisa selesai dalam waktu 3 hari ternyata belum lekas selesai sampai sekarang. Rusia dulunya dikenal sebagai negara dengan pasukan militer nomor 2 terkuat di dunia setelah Amerika Serikat. Namun, setelah perang Rusia-Ukraina berlangsung, fakta menunjukkan hal yang berbeda. Militer Rusia tetap menjadi nomor 2, tetapi bukan di dunia, melainkan di Ukraina. Ini bukan candaan, tetapi fakta yang ada di lapangan. Sampai saat ini pun, Rusia belum mampu meraih superioritas udara di langit Ukraina. Justru kebanyakan jet tempur Rusia berhasil ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara Ukraina. Hal ini sangat ironis mengingat Ukraina hanyalah negara dengan perlengkapan militer yang sudah tua karena menggunakan teknologi peninggalan Soviet. Anehnya, Rusia tidak mampu...

Mengapa Serangan Pre-emptive NATO ke Rusia Bukan Ide yang Buruk

Oleh Dennis Ramadhan Perang antara Rusia dan Ukraina telah berlangsung selama lebih dari 3 tahun. Ratusan ribu orang telah menjadi korban dari keganasan perang yang tak berkesudahan ini. Presiden Donald Trump memang benar, perang ini seharusnya tidak pernah terjadi. Namun, akar penyebab dari perang ini tak lepas dari lemahnya respon Amerika dan Eropa terhadap agresi Rusia di masa lalu. Di tahun 2008, Rusia melakukan agresi militer terhadap Georgia, namun tidak ada respon yang diberikan. Kemudian di tahun 2014 ketika Rusia mencaplok Crimea dari Ukraina, lagi-lagi Eropa dan Amerika tidak melakukan tindakan apapun selain memberikan sanksi lemah yang tidak berpengaruh apapun terhadap Rusia. Pola seperti ini terus dilakukan oleh sekutu beberapa tahun belakangan sehingga Rusia mencium bau kelemahan dan ketakutan dari Amerika dan Eropa. Amerika dan Eropa mempunyai organisasi militer yang paling kuat di dunia yaitu NATO. NATO sebenarnya m...